google-site-verification=dwhumxho11lF8qf4pJiXSK3sIBkhfcmSWtJ8AJGJ7x4 Di Tebo Ada Tanah Bisa Dimakan, Warga Sebut Namanya Tanah Ampo

Advertisement

Di Tebo Ada Tanah Bisa Dimakan, Warga Sebut Namanya Tanah Ampo

Senin, 11 April 2016

Ilustrasi : Warga Sungai Keruh saat mendulang emas,  tidak jauh dilokasi ini terletak bukit serpih tempat tanah ampo
PORTALTEBO.com - Dari sekian banyak keunikan yang di miliki oleh Bumi Seentak Galah Serengkuh Dayung, tidak terlewatkan Desa Sungai Keruh yang berada di Kecamatan Tebo Tengah hingga kini masih menyimpan hal yang unik, Dimana tidak jauh dari pemukiman terdapat segumpalan tanah yang layak dikonsumsi manusia.

Bukti kekuasaan tuhan dalam menghendaki segala hal di pertunjukkannya kepada masyarakat desa yang dulunya sebagai pusat Kota Marga Petajin Ulu. Ditengah hingar bingarnya kehidupan, hingga zaman ini peninggalan 'Tanah Ampo' dikabarkan masih membentang  di tepi pemukiman Desa Sungai Keruh, Tebo Tengah.

Sisi lain tanah saat ini sulit didapatkan karena harganya yang sangat mahal, sebagaimana bagi para pengerajin batu-bata. Keberadaan tanah mereka anggap sebagai emas yang harus dikerjakan dan dijadikan bahan pokok bangunan, sehingga dari pekerjaan tersebut mereka mendapatkan uang dalam memenuhi kebutuhan hidup. Namun berbeda dengan warga Sungai Keruh.

Sepintas didengar seolah-olah seperti surga saja. Sebab masyarakat setempat beberapa waktu dahulu masih menikmati keberadaan tanah yang bisa dimakan. Entah apa mulanya maka diberikan nama sedemikian. Namun pastinya tanah ini dapat dikonsumsi layaknya makanan berupa dodol atau jenang yang kerap kita temukan pada hari lebaran silam.

Tidak jarang para ibu hamil di desa setempat kerap mengidam makan tanah ampo ini, dan tanpa susah payah sang suami mereka dapat memenuhi permintaan tersebut. Sampai saat ini dikatakan warga setempat bahwa tanah tersebut memiliki berbagai manfaat, salah satunya yaitu adalah sebagai obat sakit perut dan mencret.

"Tanah Ampo ini memiliki warna yang unik, dan rasanyapun ada sekitar tiga macam,"ujar Kamal salah satu warga Sungai Keruh beberapa waktu lalu.

Menurutnya bahwa tidak ubah seperti dodol, tanah tersebut memiliki warna putih kecoklatan. Persis seperti dodol yang setengah matang. Namun bedanya tanah tersebut tidak lengket. Bahkan rasanya yang tiga macam tersebut mengandung rasa manis dan lemak.

"Bedanya rasa tanah itu tergantung kita mengambil yang mana, dan warnanya ada yang putih kecoklatan terang dan ada juga yang agak putih kecoklatan gelap. Anehnya tanah ini tidak pernah habis jika diambil,"terangnya.

Ajaib, setiap kali warga mengekuk (Mengeruk atau mengambil-red) tanah tersebut. Meskipun dilakukan oleh banyak orang tapi tanah ampo sama sekali tidak habis. Melainkan justru akan timbul dengan sendirinya secara perlahan- lahan. Dan tidak jarang warga kerap mengambil hingga berbaskom-baskom untuk dinikmati sekeluarga.

Diakui warga setempat bahwa banyak cara mereka untuk menikmati tanah ampo ini. Ada yang sengaja memanasakannya diatas tungku hingga berhari-hari, dan tanah tersebut akan kering dengan sendirinya. Serta mengeluarkan bau wangi yang sangat nikmat. Dan adapula yang menikmatinya dengan cara diiris dan dijemur hingga kering dibawah
terik matahari.

"Tanah itu dimakan sambil nonton atau ngobrol dirumah enak nian. Apalagi pakai kopi. Gurih dan lemak nian rasanya,"ujarnya.

Segelintir kisah dari cerita asal mula tanah ini, dikatakan Kamal bahwa konon seorang rajo yang tinggal diwilayah pemukimaan saat ini sengaja mengajak rakyatnya membuat dodol. Namun bertepatan dengan itu Rajo dari Palembang datang menyerang kediaman tersebut. Dan pada saat itu juga banyak dodol yang tumpah. Dan tanah Ampo ini diduga adalah merupakan dodol-dodol yang tumpah tersebut.

"Letak tanah Ampo ini di dekat Sungai Ulek. Tidak jauh dari Bukit Serpih. Tepatnya di seberang Sungai Batanghari bertepatan dengan Sungai Petepatan,"ujar Kamal terkagum-kagum.

Senada dikatakan Kepala Desa Sungai Keruh saat ini, Harmalini. Bahwa keberadaan tanah ampo didesa mereka tersebut sudah lama adanya. Hanya saja seolah menjadi rahasia umum, namun sedikit sekali masyrakat Tebo yang mengetahuinya.

"Memang keberadaan tanah ini tidak semua masyrakat mengetahuinya, tapi pada beberapa tahun lalu pernah mahasiswa dari luar sumatera datang untuk melakukan penelitian. Hingga saat ini tanah tersebut masih ada dan sering dijadikan makanan cemilan, hanya saja letak tanah tersebut akan terlihat ketika air sungai surut," pungkasnya.

Sementara itu informasi terbaru dari Kepala Desa Sungai Keruh,  Hasbi saat dikonfirmasi pada Senin (11/04/2016) mengatakan bahwa tanah tersebut masih ada dan bisa diambil ketika air Sungai Surut.

"Masih ada, tapi kalau sekarang air dalam, kalau mau mengambilnya saat air surut,"tukasnya.(*) 

Ditulis Oleh : Ade
(pernah di muat disejumlah media cetak)