google-site-verification=dwhumxho11lF8qf4pJiXSK3sIBkhfcmSWtJ8AJGJ7x4 Jadi Doktor Termuda, Shinta Amalina, Putri Jambi Raih Rekor MURI

Advertisement

Jadi Doktor Termuda, Shinta Amalina, Putri Jambi Raih Rekor MURI

Kamis, 16 Agustus 2018

PORTALTEBO.id - Saat namanya mulai santer disebut-sebut sebagai doktor termuda di Indonesia, tidak seorang pun menyangka bahwa Shinta Amalina Havidz ternyata seorang atlet bela diri.

Penguasaannya dalam cabang olahraga kempo telah membuahkan sejumlah medali emas dan perak dari berbagai ajang berlevel nasional dan internasional sejak 2003.

Kegemilangannya makin lengkap mana kala Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) menganugerahinya penghargaan sebagai doktor termuda bersama sepuluh pemecah rekor di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi di Jakarta, Kamis (9/8).

Perempuan yang akrab dipanggil Ita itu menggondol gelar PhD bidang manajemen perusahaan dari Wuhan University of Technology dalam 25 tahun 11 bulan pada bulan lalu.

Dia menyelesaikan pendidikan S3 terbilang muda mengingat kebanyakan pada usia tersebut setinggi-tingginya berjenjang master.

"We start this together, so we need to finish it together," tutur Ita menirukan ucapan salah seorang teman sekelasnya di WUT yang melecut semangatnya agar bisa menyelesaikan program S3 bersama rekan sekelasnya hingga lulus itu.

Perempuan asal Jambi itu mengaku banyak menghadapi kendala saat menempuh pendidikan di Ibu Kota Provinsi Hubei yang berada di wilayah tengah daratan Tiongkok tersebut.

"Banyak godaan untuk menunda, tapi saya memilih untuk lanjut dan fokus," ujarnya sampai dia mampu menyelesaikan pendidikan jenjang S3 dalam waktu hanya tiga tahun.

Hal itu menjadikan keunikan tersendiri di China karena sebagian besar pendidikan doktor rata-rata ditempuh dalam waktu empat hingga lima tahun.

Oleh sebab itu, dia merasa beruntung memiliki teman sekelas dari berbagai negara, termasuk China, yang saling menyemanganti.
Teman-temanya itu banyak membantu melalui diskusi dalam menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi.

Demikian pula keluarganya di Tanah Air yang sangat mendukung sepak terjang Ita selama menimba ilmu di negeri Tirai Bambu itu.
Tidak hanya berkutat di bidang akademik, Ita juga aktif dalam kegiatan seni dan budaya. Beberapa kali dia mendapatkan kesempatan memperkenalkan beberapa tarian tradisional khas Nusantara di Kota Wuhan.

"Dia sangat menginspirasi. Tidak mudah bagi dia yang dalam usia relatif muda sudah bergelar doktor dan sebelumnya telah banyak menorehkan prestasi di arena kempo," kata Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia, Pandu Utama Manggala. (red)

Sumber Artikel : Metrojambi.com