Warga Pemayungan Resah Digusur Paksa Tiga Perusahaan

Advertisement

Warga Pemayungan Resah Digusur Paksa Tiga Perusahaan

Rabu, 29 Agustus 2018

Photo: inilahjambi.com
PORTALTEBO.id– Ratusan warga Desa Pemayungan, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo telah resah akibat aktivitas tiga perusahaan. Tiga perusahaan itu diduga secara masif telah menggusur paksa dengan cara mengintimidasi warga.

Dikutip dari website inilahjambi.com, Tiga perusahaan itu adalah PT Lestari Alam Jaya (LAJ), PT Wana Mukti Wisesa (WMW) — keduanya adalah perusahaan konsensi Hutan Tanaman Industri (HTI) dan PT ABT — perusahaan restorasi ekosistem.

Menurut Kepala Desa Pemayungan Syaharudin (36), intimidasi dan penggusuran paksa ini mulai masif sejak Juni 2018 lalu. Persisnya sejak PT LAJ dan WMW menjadi anak perusahaan PT Royal Lestari Utama (RLU) — joint ventura antara Barito Pasific Group (Indonesia) dan Michelin Group, salah satu perusahaan ban terbesar di dunia asal Perancis. Tahun ini PT RLU menerima obligasi keberlanjutan sebesar 95 juta dollar Amerika dari Tropical Landscape Finance Facility (TLFF).

Syaharudin menjelaskan sampai 27 Agustus 2018 kemarin, penggusuran paksa masih terus terjadi. Kebun milik masyarakat totalnya mencapai 300 hektar lebih, berupa tanaman sawit, karet, jengkol, bahkan sialang habis digusur tiga perusahaan tersebut.

“Kebun saya seluas 30 hektar juga telah habis digusur masyarakat,” kata salah satu tokoh Suku Anak Dalam, Tumenggung Bujang Kabut. Padahal, kebun itu, kata Bujang, hasilnya untuk memenuhi kebutuhan kami sekeluarga sehari-hari. “Sekarang kami tak tahu mau makan apa dan tinggal dimana,” keluhnya.

Bujang sempat dijanjikan untuk menerima “tali asih” sebesar Rp 80 juta. Kenyataannya, yang baru diberikan perusahaan hanya Rp 15 juta. Sisanya, kata perusahaan telah diberikan kepada Kepala Desa Melako Intan.

“Aneh, lahan saya berada di Desa Pemayungan kok uangnya diberikan kepada Kades lain,” ujarnya.

Syaharudin menjelaskan lahan yang digusur perusahaan sebagian besar adalah lahan milik Suku Anak Dalam. Salah satunya milik keluarga Tumenggung Bujang Kabut.

Salah satu pendamping masyarakat, Abdul Azis menjelaskan bahwa PT LAJ mengantongi SK Menteri Kehutanan untuk Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu – Hutan Tanaman Industri (IUPHHK – HTI) dengan nomor SK.141/MENHUT-II/2010 tanggal 31 Mei 2010 seluas 61.495 hektar di Kabupaten Tebo.

“Anehnya, tidak dijelaskan konsesi itu tepatnya berada di Kecamatan mana,” kata Abdul Azis. (red)