412 Anak di Rantau Jaya Terancam Putus Sekolah

Advertisement

412 Anak di Rantau Jaya Terancam Putus Sekolah

Kamis, 13 September 2018

PORTALTEBO.id - Sekitar 412 anak di Rantau Jaya, Patokan Km.55, Kecamatan VII Koto, terancam putus sekolah. Pasalnya, anak-anak ini tidak memiliki akte kelahiran yang menjadi syarat administrasi untuk melanjutkan sekolah.

Informasi yang dirangkum PORTALTEBO.id, 412 anak-anak ini terdiri dari 335 siswa Sekolah Dasar (SD) dan 77 siswa SMP. Mereka sekolah di SD SMP Jarak Jauh yang berada diwilayah Rantau Jaya Patokan KM 55 Kecamatan VII Koto. Dari jumlah tersebut, 95 persennya tidak memiliki akta Kelahiran.

Sementara, untuk melanjutkan jenjang sekolah dan perguruan tinggi diperlukan akta kelahiran sebagian salah satu syarat administrasinya,”Jadi anak-anak yang tidak memiliki akte kelahiran terancam putus sekolah, ”ujar Ernawati Sembiring, Wakil Kepala Sekolah SD jarak jauh Rantau Jaya Patokan KM 55 Kecamatan VII Koto.

Dia mengungkapkan bahwa tidak adanya akta lahir siswanya tentu membuat pihak sekolah kesulitan dalam proses administrasi. "Karena tidak ada akta kelahiran, jadi kita sangat sulit memproses administrasinya,”keluhnya.

Padahal, lanjut Ernawati, siswa SD dan SMP Jarak Jauh memiliki potensi yang luar biasa dan berprestasi. Namun, dia khawatir dengan masa depan siswanya hanya karena tidak memiliki akta kelahiran imbas dari tidak dimilikinya data kependudukan orang tua.

Selama ini, dikatakan Ernawati lagi, SD Jarak Jauh Rantau Jaya menginduk ke SDN 026 Desa Kuamang Kecamatan VII Koto Kabupaten Tebo, 335 Siswa dibagi 9 Rombel tanpa guru berstatus PNS.

" Kami masih menginduk SDN 026 dan di sekolah jarak jauh ini belum ada satupun guru yang berstatus PNS,”ungkapnya.

Ernawati berharap persoalan data kependudukan warga Rantau Jaya Patokan KM 55 Kecamatan VII Koto yang berimbas kepada masa depan anak-anak mereka dapat diselesaikan oleh pihak terkait.
"Tentu kami berharap persoalan data kependudukan warga Patokan KM 55 Kecamatan VII Koto dapat terselesaikan. Jujur, Kami sangat kasihan dan khawatir dengan masa depan anak-anak itu, " tutupnya. (red)