JANGAN JADI KORBAN TREND

Advertisement

JANGAN JADI KORBAN TREND

Rabu, 31 Oktober 2018


Apa yang ada dalam pikiran saat mendengar kata ‘tren’?.Salah satu jawabannya adalah ‘life style’ atau gaya hidup. Setiap manusia seakan-akan dituntut mengikuti arus ‘life style’atau akan disebut ‘ketinggalan zaman’. Di antara gaya hidup zaman sekarang adalah penggunaan kecanggihan teknologi informasi yang juga menjadi perantara dalam melatar belakangi ‘gaya hidup’ konsumsi . Saat ini , mengonsumsi suatu produk yang digunakan untuk kegiatan sehari-hari dapat dillakukan hanya satu kali klik dan barang yang diinginkan akan datang . Di masa lalu untuk memenuhi keinginan tersebut harus berinteraksi secara langsung ke tempat produk yang ingin dibeli .

Menurut Pujoalwanto (2014), konsumsi merupakan kegiatan seseorang atau kelompok dalam menggunakan, memakai atau menghabiskan barang dan jasa dengan maksud memenuhi kebutuhan hidupnya.

Konsumsi berhubungan erat dengan masalah selera, identitas dan gaya hidup.Gaya hidup mempengaruhi perilaku seseorang yang akhirnya akan menentukan pilihan-pilihan dalam mengkonsumsi suatu produk. Gaya hidup ikut berkembang sesuai dengan kemajuan zaman dan didukung oleh fasilitas-fasilitas yang ada. Saat ini orang-orang berkompetensi untuk saling unggul dalam kehidupan sehari-hari agar menimbulkan prestise dari lingkungannya. Mengikuti trend mode yang terus didengungkan sebagai ‘kiblat fashion’ dan tanpa sadarsifat dan perilaku konsumerisme telah melekat sebagai suatu kebiasaan.

Dalam mengikuti tren mode yang berkembang, seseorang dapat melakukan segala cara agar apa yang diinginkannya tercapai, termasuk menghamburkan uang dengan cara membelanjakannya. Teknologi informasi yang canggih telah memfasilitasi banyaknya media penjualan online yang dapat dan mudah diakses oleh seluruh kalangan masyarakat. Dalam aplikasi tersebut ada kemudahan yang diberikan oleh owner-nya seperti fasilitas bayar nanti atau promo-promo yang menarik hati .Semuanya dapat diatur sesuai dengan keinginan.

Membeli produk pun bukan lagi menjadi hal yang sulit dilakukan karena sudah banyak aplikasi yang mendukung kemudahan dalam berbelanja. Kita tinggal duduk saja dirumah lalu pesan makanan atau barang yang kita butuhkan, produk yang diinginkan pun akan datang.

Namun, seiring maraknya penjualan online, maka ‘penyakit’ boros manusia juga semakin menjadi-jadi. Kadang mereka hanya membeli barang apa yang mereka inginkan padahal sesungguhnya mereka tidak (terlalu) membutuhkan barang tersebut. Disinilah timbul penyakit yang bernama konsumerisme.

Konsumerisme adalah situasi dimana orang-orang membeli berbagai barang semata-mata untuk kesenangan membeli, bukan karena atas dasar kebutuhan .Menurutnya, hasrat adalah keinginan untuk mengkonsumsi. (Zygmut Baumant). Awal dari munculnya konsumerisme ini adalah ingin tampak berbeda dari yang lain atau hanya sekadar ikut-ikutan saja. Namun nyatanya, keinginan tersebut menjadi sebuah kebiasaan yang terus menerus untuk dilakukan. Jika tidak, maka ada rasa kecewa terhadap diri sendiri dan memudarnya rasa percaya diri.

Ada banyak dampak yang diakibatkan dari konsumerisme ini , salah satunya adalah dampak positif. Antara lain membuka lowongan pekerjaan, meningkatkan motivasi agar dapat memiliki produk yang diinginkan , dan masih banyak lagi. Konsumerisme tidak hanya membawa dampak positif saja, tetapi juga membawa dampak negatif seperti konsumerisme menjadi budaya dalam masyarakat, adanya kesenjangan sosial , dan lebih parahnya lagi , tidak memikirkan masa depan.

Solusi dalam mengatasi hal tersebut tentunya kita dapat berharap kepada prinsip konsumsi dalam ekonomi islam .Ekonomi islam hadir bagaikan oase di tengah gersangnya gurun pasir. Prinsip kuantitas dalam ekonomi Islam sangat erat kaitannya dengan sikap sederhana serta pandai dalam menyesuaiakan antara pendapatan serta pengeluaran.  Dua sikap tersebut saling terkait karena dengan bersikap sederhana seseorang telah menyesuaikan antara pendapatan dan pengeluaran dirinya.

Pemasukan dan pengeluaran pada dasarnya saling terkait satu sama lain. Analoginya adalah semakin besar pemasukan seseorang, semakin besar pula  pengeluaran karena gaya hidup yang ikut meningkat juga. Analogi tersebut bukan berarti mencap seluruh manusia berperilaku seperti itu. Penulis percaya bahwa masih ada orang yang dalam mengonsumsi barang maupun jasa sesuai dengan prinsip Islam tersebut. Namun, penulis hanya mengamati fenomena yang terjadi di sekitar sehingga lahirlah analogi tersebut. Terkadang manusia berusaha memiliki barang yang diinginkannya hingga sanggup berhutang untuk mendapatkan barang yang diinginkan.

Artikel ini ditulis oleh mahasiswa Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi dengan tema “Konsumsi Dalam Islam”
Penulis :
Helmi Azizati Manel
Edricho Wijaya NG
Sakdiyah
Syindy Cantika
Indah Permata Sari
Pajar Susanto
Irvan Manalu