google-site-verification=dwhumxho11lF8qf4pJiXSK3sIBkhfcmSWtJ8AJGJ7x4 EMANSIPASI WANITA SERTA KODRAT WANITA

Advertisement

EMANSIPASI WANITA SERTA KODRAT WANITA

Senin, 05 November 2018


Oleh: Nani Nirwani

“Emansipasi Wanita” hal yang selalu hangat untuk diperbincangkan. Ketika kita mendengar kata tersebut sontak teringat sebuah nama pejuang emansipasi wanita di negeri ini. “R.A Kartini” seorang wanita priyayi jawa yang memunyai pemikiran untuk maju pada masanya. Memperjuangkan harkat dan martabat wanita untuk mencapai kesetaraan hak sebagai manusia.

Lalu bagaimana emansipasi wanita pada era ini? Seiring dengan perkembangan zaman, melalui gerakan emansipasi, perempuan Indonesia akhirnya dapat mensejajarkan diri dengan kaum pria dalam berbagai bidang kehidupan, baik di bidang politik, ekonomi maupun sosial. Perempuan sudah dapat menduduki posisi-posisi penting di bidang birokrasi. Perempuan juga sudah dapat berkiprah di bidang politik serta sukses di bidang sosial dan ekonomi.

Dalam pasal 65 ayat 1 Undang- Undang nomor 12 tahun 2003 mengenai keterwakilan sekurang- kurangnya 30% wanita dalam politik merupakan bentuk nyata untuk perempuan berperan dalam ranah politik. Ketentuan dari UU (Undang-Undang) di atas merupakan tindak lanjut dari konvensi PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa), yaitu persoalan yang menyangkut penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Selain itu, Uni Antar Parlemen (Inter Parliamentary Union) pada tahun 1997 di New Delhi mendeklarasikan “Hak politik perempuan harus dianggapi sebagai satu kesatuan dengan hak asasi manusia. Oleh karena itu, hak politik perempuan tidak dapat dipisahkan dari hak asasi manusia”. UU (Undang-Undang) dan konvensi PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) tersebut menandakan bahwa dalam ranah politik peran perempuan sudah mulai diakui dan diperhitungkan.Hal ini membuktikan bahwa wanita masa kini dapat ikut serta dalam segala bidang kehidupan masyarakat tanpa ada diskriminasi pembagian kerja.

Sebagai contoh ada beberapa perempuan Indonesia sudah membuktikan kepada bangsa bahwa mereka mampu ikut serta dalam membangun bangsa. Salah satu dari mereka adalah ‘Mari Elka Pangestu’ seorang ekonom Indonesia kelas dunia. Kita juga mengenal ‘Susi Susanti’ yang sudah meraih piala emas di Olimpiade Barcelona pada tahun 2002, sampai pada Menteri Kelautan dan Perikanan’ yang selalu menjadi sorotan warganet yaitu ‘Susi Pudjiastuti’.

Namun perlu digaris bawahi adalah emansipasi wanita bukan menghapuskan peran wanita untuk keluarga. Bukan berarti ibu rumah tangga lebih rendah dibanding wanita karir, dan ibu rumah tangga dianggap ketinggalan zaman serta wanita karir itu artinya ibu gaul. Dapat diperjelas lagi bahwa emansipasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pembebasan dari perbudakan, persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Artinya seorang wanita dapat memilih antara keduanya tanpa paksaan oleh siapapun.

Namun, demi membangun bangsa ini agar menjadi lebih baik lagi, kaum perempuan tidak boleh melupakan hakikatnya sebagai seseorang perempuan yang mempunyai sumber kelembutan. Sudah selayaknya kaum perempuan perlu menyadari akan kodratnya. Perempuan diharapkan bisa menjadi pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Menjadi Ibu yang dapat membimbing mereka menjadi anak yang kuat, cerdas, dan mempunyai etika serta moral yang baik. Begitulah sebenarnya peran wanita yang utama selain berbagai peran di ketiga bidang kehidupan ekonomi, politik dan sosial. Wanita dituntut untuk menjalani kehidupan sesuai perannya masing-masing. Wanita telah menjadi sosok yang harus di hormati dan dilindungi dari berbagai kekerasan dan penganiayaan. Namun, wanita juga harus sadar akan tugas utamanya. Tugas ini mampu untuk menyadarkan perempuan generasi muda untuk menjadi perempuan yang terhormat, berharga dan sebagai kebanggaan bangsa.

Seperti yang diujarkan Ir. Soekarno “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah dan jasa-jasa pahlawannya yang berjuang hanya untuk bangsa tercinta ini”. Kita seharusnya dapat memanfaatkan emansipasi wanita yang sudah diperjuangkan Kartini dengan sebaik-baiknya, yaitu membekali diri untuk berpartisipasi membangun bangsa, mengharumkan nama kaum perempuan, dan tidak menjadi seseorang yang menjatuhkan martabatnya sebagai seorang perempuan.

Kendatipun, yang perlu dijadikan refleksi diri adalah dimana emansipasi wanita ini dapat menjadikan generasi muda perempuan yang cerdas, bukan menjadi lemah. Alhasil perempuan akan menjadi subjek bagi bangsa ini bukan sekedar objek. Sekaranglah saatnya generasi muda perempuan mencatatkan dirinya sebagai pelaku emansipasi yang mampu berdiri mengambil peran penting untuk membangun bangsa yang tercinta ini dengan syarat tidak mengabaikan kodratnya sebagai perempuan.

Nani Nirwani, Mahasiswa Semester 5 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Jambi.