google-site-verification=dwhumxho11lF8qf4pJiXSK3sIBkhfcmSWtJ8AJGJ7x4 SUMBER KERESAHAN SASTRA INDONESIA

Advertisement

SUMBER KERESAHAN SASTRA INDONESIA

Rabu, 07 November 2018

Ilustrasi: instagram @exxson_
Oleh: Muslihin Abdillah

“bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak akan melupakan jasa para pahlawannya.” Begitulah seruan sang poloklamator Ir. Soekarno  mengginggatkan kita untuk senantiasa mengenang jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Jika berbicara tentang seorang pahlawan, apakah sastrawan  juga berada di dalam rana tersebut. Menurut pasal 25 dan 26 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009, untuk memperoleh gelar pahlawan nasional, seseorang harus memenuhi beberapa syarat umum dan khusus, yang diantaranya seperti: 1) warga negara Indonesia, 2) punya integrias moral dan keteladanan, 3) berjasa terhadap bangsa dan negara, 4) mengabdi sepanjang hidupnya atau melebihi tugas yang diembannya, 5) pernah menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa. Didasari dari beberapa syarat tersebut, terdapat deretan sastrawan  yang berjuang bersenjatakan peluru kata-kata dan digelar sebagai pahlawan Indonesia. Diantaranya; Chailir Anwar, Abdoel Moeis, Amir Hamzah, Goenawan Mohamad, dan Mohammad Yamin. Mereka adalah bukti sejarah, betapa besarnya peran sebuah sastra untuk membangkitkan semangat dan menyatukan para pejuang nasionalisme kita demi meraih kebebasan bernegara.

Pada hari Jum’at 17 Agustus 1945 Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Terlepas dari itu, apakah sastra masih dianggap sakral dan bermakna bagi generasi penerusnya...? Alkisah akhir-akhir ini karya sastra tampaknya kurang eksistensi lagi dikalangang pemuda kita. Ditengah arus globalisasi ini, sastra kian lama kian tenggelam dalam masyarakat. Pemuda seakan-akan tak acuh dan tak mau ambil peduli lagi akan keberlangsungan sastra ini. Perlu kita sadari, sebenarnya sastra juga memiliki peran dalam  membangun peradaban bangsa. Melalui karya sastra, seseorang tidak hanya mengembangkan imajinasi yang bisa digunakan untuk membangun bangsa, tetapi juga sebagai media untuk mewariskan nilai kearifan lokal kepada generasi muda. Kearifan lokal inilah yang membentuk jati diri bangsa Indonesia. Akan tetapi, hanya segelintir pemuda yang masih melirik karya sastra sedangkan sebagian lainnya masih enggan memperdulikannya. Mengapa hal demikian bisa terjadi?

Ada beberapa fakor yang memungkinkan menurunnya minat pemuda dalam mengapresiasi karya sastra. Yaitu; 1) karena Pengabaian sastra ini berakar dari buruknya sistem pendidikan di Indonesia, sikap yang kurang apresiatif muncul dari siswa dan guru, sehingga pengajaran sastra terabaikan.  Sering kita temui di lapangan bahwa guru hanya menuntut siswa memahami teori sastra sebagai bahan bacaan untuk dihafal nama-nama sastrawan berikut hasil karya dan alur ceritanya saja, namun tidak untuk diapresiasi. Dan juga siswa membaca karya sastra tersebut melalui sinopsis yang dibuat oleh guru, atau dari sumber lainnya yang dapat diakses di zaman serbah canggih ini. Dengan kata lain, pembelajaran sastra barulah kulit luarnya saja. Siswa hanya memahami garis besar dalam ceritanya, akan tetapi tidak mampu memahami nilai-nilai yang ingin disampaikan oleh penulis. Hal hasil, dengan sistem pendidikan atau yang lebih tepatnya cara mengajar guru tersebut akan mengakibatkan hilangkan proses kreatif, imajinatif, dan spritualitas siswa. Hal demikian, dapat berpengaruh kepada kepeduliannya terhadap apresiasi sastra kelak. Pada dasarnya pengajaran sastra mempunyai relevansi dengan masalah-masalah dunia nyata, maka dapat dipandang pengajaran sastra memduduki tempat yang selayaknya. Jika pengajaran sastra dilakukan secara tepat, maka pengajaran sastra dapat memberi sumbangan yang besar untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang cukup sulit untuk dipecahkan di dalam masyarakat. Akan tetapi, pada kenyataannya penyajian pengajaran sastra saat ini hanya sekedar memenuhi tuntunan kurikulum. 2) kurangnya minat membaca terutama karya sastra frosa yang pada umumnya memiliki halaman yang cukup tebal dan Sebagian besar karya sastra tersebut masih berada di wilayah orang dewasa. Belum banyak karya sastra yang ditulis kembali dengan bahasa yang mudah dipahami oleh anak-anak ataupun remaja. 3) Karena masih minimnya fasilitas umum seperti rumah baca dan pustaka keliling yang dapat dijangkau oleh masyarakat dan akhirnya mereka mengambil alternatif lain dengan cara memanfaatkan internet untuk mengakses informasi tersebut. Akan tetapi lebih cendrung mengarah kepada audio visual karna lebih menarik dan tidak membosankan, sehingga budaya membaca lambat laun akan tergerus perubahan zaman. 4) perubahan zaman dan lingkungan pergaulan memungkiri sastra seolah-olah  kuno dan tidak cocok lagi berkontribusi di zaman ini. Di era modrnisasi, cara manusia bergaul akan mengalami perubahan yang turut mencakupi cara berbahasa, berbudaya, dan beretika yang cendrung berkiblat ke barat. Hal ini mengilustrikan revolusi moral di masa akan datang. Kita tidak bisa sepenuhnya menyalakan perubahan tersebut karena teknologi juga berperan dalam membantu berbagai macam keperluan, akan tetapi teknologi juga memiliki dampak negatif jika tidak dipergunakan dengan bijak. Dengan demikian, hal-hal tersebut lah yang menjadi inti dari sumber keresahan sastra Indonesia saat ini. Sastra seperti bernadi tapi tak berdenyut lagi, dan tak tau kapan berdebar kembali.

Untuk mengembalikan kejayaan sastra dikalangan pemuda atau yang lebih elegan disebut dengan kids zaman now ini, merupakan pekerjaan rumah kita bersama. Segenap elemen masyarakat dan pemerintah harus berkerja lebih ekstra untuk memecahkan problematika ini. Kita sebagai pemuda jangan hanya terpaku bisu, kita juga  harus turut campur tangan dalam melestarikan karya sastra. Bercermin lah kembali pada priode sebelumnya, yang dimana pada saat itu karya sastra sangat eksistensi di semua kalangan. Tentu kita ingin karya sastra tetap abadi dan dapat dinikmati oleh anak cucu kita nanti bukan? Maka dari itu, kita sebagai pemuda tidak sepatutnya mengabaikan tanda tersbut. Seharusnya kita perlu berupaya lebih untuk mencari solusi demi  keberlangsungan sastra ini. Karna tanggung jawab ada ditangan kita, generasi pemuda penerus bangsa. (*)

Penulis: Muslihin Abdillah  Mahasiswa Smester V, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Universitas Jambi (UNJA).