google-site-verification=dwhumxho11lF8qf4pJiXSK3sIBkhfcmSWtJ8AJGJ7x4 Bakor Pakem Antisipasi Kelompok Warga Yang Mengisolasikan Diri di Pemayongan

Advertisement


Bakor Pakem Antisipasi Kelompok Warga Yang Mengisolasikan Diri di Pemayongan

Kamis, 31 Januari 2019

Tim Bakor Pakem Tebo saat gelar rapat kordinasi. (FOTO: Dok Kejari Tebo) 

PORTALTEBO.id - Sekelompok warga di desa Pemayongan, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, memisahkan diri dari warga desa sekitar dengan alasan aqidah.

Kelompok warga ini menggarap lahan dan melakukan kajian keagamaan di kawasan PT Alam Bukit Tigapuluh (ABT) yang berdekatan wilayah administrasi desa Pemayungan.

Keberadaan kelompok yang berasal dari Propinsi Riau, Lampung, Sumatera Utara dan Jawa ini datang ke desa Pemayongan untuk menetap. Karena mengisolasikan diri dari warga sekitar, keberadaan kelompok ini memancing kecurigaan warga setempat, khusunya pihak PT ABT.

“Iya, kita sudah terima laporan dari PT ABT terkait kelompok masyarakat ini, “kata Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Tebo, Erlynda, dikonfirmasi Kamis (31/01).

Untuk mengantisipasi terjadinya hal yang tidak diinginkan, kata Erlynda, pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan dan Keagamaan (Bakorp Pakem) Kabupaten Tebo.

Bakan, kata dia, Bakorp Pakem telah melaksanakan rapat koordinasi (rakor) keterkaitan keberadaan dan aktivitas kelompok warga tersebut,”Rabu kemarin (30/01) kita gelar Rakor bersama Bakor Pakem di aula kantor Kejari Tebo. Rakor membahas keberadaan sekelompok warga yang memisahkan diri dari warga sekitar di desa Pemayongan, “kata Erlynda lagi.

Ditanya apakah sekelompok warga tersebut diduga menganut aliran yang menyimpang, Erlynda mengatakan, “Masih perlu data dan informasi terkait aktivitas dan keberadaan kelompok tersebut. Jadi belum bisa dikatakan aliran yang menyimpang. Yang jelas begitu kita menerima tembusan surat tentang keberadaan kelompok itu, kita langsung menugaskan staf untuk cross check ke lokasi. Dan berdasarkan surat itu juga, kita laporkan kepada Ketua Bakorp Pakem Tebo,”ujar dia.

Terpisah, Ketua Bakor Pakem Kabupaten Tebo, Teguh Suhendro membenarkan jika tim Bakor Pakem telah menggelar rakor terkait keberadaan sekelompok warga diduga menganut aliran menyimpang di desa Pemayongan.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Tebo ini menjelaskan bahwa, rakor yang dilaksanakan di aula kantor Kejari Tebo dihadiri langsung oleh Dandim O146/Bute, Wakapolres Tebo, Perwakilan PT. ABT dan seluruh anggota Bakor Pakem Kabupaten Tebo.

Dari hasil rakor, kata Teguh Suhendro, didapatkan informasi awal bahwa kelompok warga tersebut berjumlahsekitar 28 kepala keluarga (KK) yang berasal dari Propinsi Riau, Lampung, Sumatera Utara dan Jawa.

Kelompok ini datang ke desa Pemayongan untuk menetap, mengarap lahan dan melakukan kajian keagamaan secara tertutup yang dipimpin oleh ustad Suparno.

Awal kelompok ini masuk ke Desa Pemayongan bermula dari mereka membeli lahan dengan harga murah dari salah seorang warga Tebo. Mereka mulai masuk dan menggarap lahan untuk ditanami sawit sejak tahun 2016 lalu. Modus jual beli lahan dengan cara imas tumbang (Pengklaiman lahan dengan bukti lahan yang telah dibersihkan untuk di jual).

Berdasarkan informasi itu, ujar Kajari, Bakor Pakem menyarankan untuk melakukan pendalaman atas informasi yang masih minim tersebut. Juga perlu klarifikasi terkait perolehan lahan dan ijin menggarap lahan di kawasan konsesi PT. ABT, serta batas wilayah dan peruntukan lahan yang digarap oleh kelompok warga tersebut.

Selain itu, butuh klarifikasi kajian yang dilakukan oleh ustad Suparno dan kitab atau buku bacaan yang dijadikan dasar.

Bakor Pakem juga menyarankan agar memberikan kesempatan kepada Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan yang terdiri dari Camat Sumay, Kapolsek Sumay, Danramil dan KUA Sumay untuk melakukan puldata dan pulbaket terhadap informasi yang perlu di dalami tersebut.

“Nanti, setelah data, informasi dan dokumen sudah cukup akan dilakukan klarifikasi kembali terhadap keberadaan kelompok warga tersebut, begitu juga klarifikasi terhadap ustad Suparno,”kata Teguh Suhendro, Kamis (31/01).

“Terkait kelompok tersebut kita dimintakan Fatwa MUI mempelajari tentang kajian yang dilakukan, apakah masuk kategori menyimpang atau masih dalam jenis kajian tarekat atau tasawuf yang diakui oleh MUI, dan merumuskan saran tindak kepada stake holder yaitu Bupati Tebo agar tidak salah mengambil keputusan,”kata Teguh Suhendro. (red)