Baru Dua Puskesmas Yang Memiliki Izin Lingkungan

Advertisement

Baru Dua Puskesmas Yang Memiliki Izin Lingkungan

Kamis, 07 Februari 2019


PORTALTEBO.id - Dari 20 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Kabupaten Tebo, 11 diantara berstatus rawat inap dan 9 non rawat inap. Dari jumlah tersebut, baru 2 Puskesmas yang memilimi Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL-UPL) guna memperoleh perizinan lingkungan yang menjadi syarat formal dalam hal legalitas pengolahan limbah medis. Hal ini dikatakan langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Tebo, dr Riana Elizabeth, Kamis (07/02).

“Baru 2 Puskesmas yang memiliki UKL-UPL, satu puskesmas memiliki Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan (SPPL),”kata dr Riana usai memberikan arahan kepada seluruh pengelola fasilitas kesehatan (Faskes) sebelum mendegar penjelasan dan arahan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tebo, tentang tata cara penanganan libah medis atau limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) sesuai dengan aturan, di aula kantor Dinkes Tebo.

Sesuai aturan kata dr Riana, setiap Puskesmas wajib mengurus dokumen lingkungannya untuk bisa menyimpan limbah mendis mereka. Hal ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Limbah B3). “Tadi sudah disampaikan oleh DLH, jadi setiap Puskesmas wajib memiliki izin lingkungan agar bisa mengelola atau menyimpan limbah medis mereka, “kata dia lagi.

Agar Puskesmas tidak menyalahi aturan dalam mengelola limbah medis kata Riana, pihaknya telah melakukan kordinasi dengan DLH Tebo untuk melakukan pengurusan izin secara kolektif. Pada Puskesmas rawat inap nantinya akan diurus UKL - UPL sedangkan Puskesmas non rawat inap akan diurus SPPL.

“Semua itu harus melalui proses dan bertahap, mulai dari perencanaan, mengurus kelengkapan dokumen, dan jika dokumen sudah lengkap baru ke proses selanjutnya yakni pengadaan TPS dan lemari pendingin, “katanya.

“Lemari pendingin itu perlu dan sangat dibutuhkan, biar Puskesmas bisa menyimpan limbah medisnya sampai 90 hari, “kata dia lagi.

Ditanya apa tindakan Dinkes terkait seluruh puskesmas dan Faskes di Tebo diduga menyalahi aturan dalam penanganan limbah mendis karena belum memiliki TPS ataupun lemari pendingin, Riana tidak menepis. Namun dia mengaku telah meminta kepada pihak puskesmas agar mengemas limbah medisnya dengan rapi dan di tempatkan di tempat yang terpisah.

“Rata-rata puskesmas kita memang belum memiliki Tempat Penyimpanan Sementara (TPS) atau lemari pendingin untuk menyimpan limbah. Namun kita minta kepada pihak Puskesmas untuk menyimpan limbah dengan rapi dan ditempatkan di tempat yang terpisah seperti drum atau safety box. Kalau untuk pengangkutan dan pemusnahan limbah, kita sudah bekerjsama dengan pihak ketiga,”ujarnya. (red)