Dinkes Diminta Serius Kontrol Penanganan Limbah Medis di Tebo

Advertisement

Dinkes Diminta Serius Kontrol Penanganan Limbah Medis di Tebo

Jumat, 01 Maret 2019

Ketua DPD LP2LH Tebo, Hary Irawan. 

PORTALTEBO.id - Ditemukannya limbah medis di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) desa Muara Ketalo, Kecamatan Tebo Ilir oleh pemulung, mendapat sorotan dari Ketua DPD Lembaga Pemantau Penyelamat Lingkungan Hidup (LP2LH) Kabupaten Tebo, Hary Irawan.

Hary menilai, penanganan limbah medis mengandung Bahan Berbahaya Beracun (B3) yang dihasilkan dari aktivitas kesehatan di Kabupaten Tebo, dianggap masih buruk, khususnya di sejumlah Puskesmas.

Dia berharap, ada sistem pengelolaan yang baik. Karena limbah B3 bisa berdampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.

“Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tebo harus serius dan bertanggung jawab dalam mengontrol penanganan limbah medis ini,” tegas Hary kepada PORTALTEBO.id, Jumat (01/03/2019).

Dari pengamatan LP2LH, kata Hary, pengelolaan limbah medis yang sekarang berjalan terkesan asal-asalan. Hampir rata-rata fasilitas kesehatan di Kabupaten Tebo terindikasi pengelolaan limbah medisnya belum sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Diantaranya, cara penyimpanan sementara, pengumpulan, termasuk pengangkutan.

Padahal, jelas dia, amanah dari Peraturan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK) Nomor 56 Tahun 2015 Tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Pengelolaan Limbah B3 Dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan, setiap limbah medis yang dihasilkan fasilitas kesehatan harus diperlakukan khusus. “Sanksi hukumnya juga jelas,”tegas dia.

Diakui Hary jika volume limbah medis hasil aktivitas kesehatan khusunya puskesmas di Tebo, tidak terlalu banyak. Namun, kata dia, penanganan limbah tersebut tetap harus diperlakukan khusus. “Yang namanya limbah medis harus dikelola dengan baik karena sangat berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan," pungkasnya.

Hary menambahkan apabila permasalahan ini tidak mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah daerah khususnya OPD yang membidangi, DPD LP2LH Tebo selaku lembaga yg mempunyai hak gugat sesuai dengan undang undang No 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada pasal 9 akan melakukan observasi langsung ke lapangan.

“Dan bila nanti terbukti kami tidak sungkan sungkan akan membawa permasalahan ini ke pada penegak hukum agar memberi efek jera, karena sudah sangat jelas sanksi pidananya yg tertuang di dalam Undang-undang nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup tersebut,” tegas dia.

Diberitakan sebelumnya, salah seorang pemulung atau pengumpul barang rongsokan mengaku menemukan limbah medis di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) di Desa Muaro Ketalo, Kecamatan Tebo Ilir, Kabupaten Tebo.

Pemulung berinisial GG ini, mengaku menemukan limbah medis berupa bekas jarum suntik, botol dan selang infus di TPAS tersebut, “Baru empat hari kemarin saya temukan (limbah medis),”kata GG dikonfirmasi saat mencari barang bekas di TPAS Muara Ketako, Kamis sore (28/02/2019).

GG mengaku jika hanya bekas botol dan selang infus yang diambilnya dan dijual seharga Rp.6 ribu per kilo, “Kalo bekas jarum suntik ndak laku dijual, “ujarnya yang mengaku menjual limbah medis tersebut ke pengepul di Kecamatan Tebo Ilir.

Ditanya siapa yang membuang limbah medis di TPAS tersebut, GG mengaku tidak tahu. “Biasanya mobil fuso bertuliskan Samisake yang buang sampah ke sini. Itu kalo ndak salah mobilnya pemerintah, “tutupnya. (red)