google-site-verification=dwhumxho11lF8qf4pJiXSK3sIBkhfcmSWtJ8AJGJ7x4 FKH Penggagas Program Integrated Cold Storage Medical Waste System

Advertisement

FKH Penggagas Program Integrated Cold Storage Medical Waste System

Selasa, 12 Maret 2019

Foto: Kemenkes RI

Ade Dharma putra dan rekan rekan yang tergabung dalam Forum Komunitas Hijau (FKH) Nusantara saat ini sedang melakukan kajian untuk eksekusi Program Integrated Cold Storage Medical Waste System. Program ini untuk mengatasi problem yang ditimbulkan dari beberapa fasilitas kesehatan yang kewalahan dalam hal penanganan limbah medis di daerah.

Program ini merupakan tekad dari FKH Nusantara untuk mengimplementasikan roadmap 8 atribut kota hijau, yang salah satunya adalah Green Waste.

Ada beberapa kabupaten kota yang saat ini berpartisipasi dalam trial project Green Waste untuk mengatasi masalah ini diantaranya, Bengkulu, Tebo, Linggau dan Damasraya.

Kabupaten Tebo disini menjadi salah satu pelopor yang mewakili Provinsi Jambi dalam trial Project ini. Karena saat ini FKH Tebo Kotaku yang berada di Kabupaten Tebo telah membuat kajian tentang Perusahaan Limbah Daerah yang kedepannya akan menjalankan Program Integrated Cold Storage Medical Waste System

Menurut koordinator Forum Komunitas Hijau Tebo Kotaku Robi Harja, FKH Tebo Kotaku sangat prihatin dengan fasilitas kesehatan yang mempunyai anggaran terbatas untuk melakukan pengelolaan limbah mereka selain. Pasalnya, selain membutuhkan biaya yang besar dampak yang ditimbulkan oleh pengelolaan limbah yang tidak tepat sangat merugikan lingkungan sekitar, terutama bila tempat pengelolaan tersebut berada dekat dengan fasilitas kesehatan itu sendiri.

Hasil koordinasi intensif koordinator FKH Tebo Kotaku dengan Ketua FKH Nusantara, Ade Dharma Putra dan dukungan dari pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemen LHK) dan juga support dari Dirjen Kementrian PSBL3, Jakarta, membuahkan hasil dalam strategi penanganan sampah atau limbah, yakni FKH Nusantara membentuk holding Company perusahan limbah daerah yang kedepannya akan menjalankan program Integrated Cold storage medical waste System. Ini guna membantu fasilitas kesehatan yang belum memiliki tempat penyimpanan sementara limbah medis.

Karena fasilitas kesehatan yang berada jauh di luar daerah areal transpotir nasional, selalu kewalahan untuk penanganan limbah medis dalam hal penyimpanan sebelum dijemput oleh transpotir.

Serba salah, disisi lain ada peraturan yang menegaskan untuk menyimpan limbah medis dalam ruangan tertutup bila tidak dapat dipindahkan dalam waktu 2x24 jam.

Akan tetapi transpotir yang rata-rata dari luar daerah tentu berkeberatan untuk menjemput limbah yang belum mencukupi order penjemputan dalam waktu singkat tersebut.

Karena akan membutuhkan cost yang tinggi agar sistem aturan yang diterapkan UU itu dijalankan.

Sedangkan untuk pengadaan cold storage tentu membutuhkan biaya yang besar dan dokumen yang lengkap agar perizinan serta legalitas peruntukannya jelas dan tidak menyalahi aturan.

Dengan kemampuan anggaran di setiap daerah yang terbatas, tentu cukup menyedot anggaran APBD bila setiap fasyankes menggunakan itu.

Karena itu, Integrated Cold storage medical waste System merupakan program yang dianggap sangat membantu, fasilitas kesehatan, pemerintah daerah, control yang lebih baik LB3 infeksius, hemat biaya dan aman.

Gagasan program tersebut dipelopori oleh 2 perusahaaan limbah daerah yang juga merupakan hasil kesepakatan FKH Bengkulu dan FKH Tebo Kotaku. Gagasan ini salah satu bentuk keinginan mandiri dan dapat memperjuangkan lingkungan tanpa membebani pemerintah daerah dalam kegiatannya.

Harapannya pemerintah daerah lebih peka akan pemberdayaan program yang sangat berpeluang dalam permasalahan lingkungan ini, selain merupakan solusi dari beberapa permasalahan limbah program ini memiliki potensi serapan tenaga kerja yang sangat besar dan dapat menggurita hingga ke kabupaten tetangga. Apakah tidak bangga perusahan limbah daerah yang kantor pusatnya di Kabupaten Tebo menjadi center dan holding di setiap perusahaan transpotir nasional yang beroperasi di Kabupaten Tebo. Bahkan dengan support perizinan kementrian yang berdasarkan Online Single Submision (OSS) perusahaan limbah daerah sudah terintegrasi di DPMPTSP Kementrian.

Semoga proses birokrasi perizinan di daerah yang memakan waktu lama ini bisa cepat dilalui, sehingga Perusahaan Lokal dapat beroperasi secepatnya dan program ini dapat membantu pihak-pihak yang membutuhkan.

Penulisan : Koko Hadiwana Sekretaris FKH Tebo Kotaku.