LP2LH Pantau Perusahaan Limbah Daerah

Advertisement

LP2LH Pantau Perusahaan Limbah Daerah

Jumat, 08 Maret 2019


PORTALTEBO.id - Tidak hanya fasilitas kesehatan (Faskes) dan limbah medis hasil aktivitas Faskes, Lembaga Pemantau Penyelamat Lingkungan Hidup (LP2LH) juga pantau berdirinya perusahaan limbah daerah yang akan beroperasi di Kabupaten Tebo.

Ini dilakukan terkait penanganan dan pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (LB3) yang ada di wilayah Kabupaten Tebo. Terutama terkait proses penanganan dan standar operasional prosedur perusahan tersebut, apakah sesuai dengan aturan yang berlaku dan sesuai dengan undang-undang.

“Iya, kita sudah menemui pihak perusahaan limbah daerah. Kita ingin perusahaan ini benar-benar berjalan sesuai prosedural, “kata Ketua DPD LP2LH Kabupaten Tebo, Hary Irawan di konfirmasi PORTALTEBO.id, Jumat (08/03/2019).

Wawan, sapaan Ketua DPD LP2LH Kabupaten Tebo mengungkapkan jika saat ini tim observasi LP2LH menemukan sejumlah limbah medis di sejumlah TPAS yang ada di wilayah Kabupaten Tebo.

Bahkan, kata dia, tim observasi LP2LH juga menemukan sejumlah fasilitas kesehatan yang terkesan asal-asalan menanggani limbah berbahaya tersebut.

Lelaki berkaca mata ini pun menegaskan, apapun bentuk usaha maupun aktivitas yang berpotensi pada pencemaran lingkungan, LP2LH akan terus mengobservasi dan memantau agar tidak berdampak buruk bagi lingkungan sekitar dan mahluk hidup lainnya,

”Pada dasarnya silahkan saja berusaha tapi harus taat dengan aturan. Jangan sesuka hati mengambil keuntungan tapi tidak peduli lingkungan sekitar,” tegas dia.

Kembali ditegaskan Wawan jika LP2LH tak akan sungkan-sungkan untuk mempertanyakan terkait kegiatan yang menyangkut lingkungan, tak terkecuali pemerintah daerah.

“Apalagi pemerintah daerah, mereka seharusnya lebih taat pada aturan. Karena mereka yang buat aturan. Kan aneh bila mereka yang melanggar aturannya sendiri,” kata dia.

Terpisah, Sekretaris Forum Komunitas Hijau (FKH) Tebo Kotaku, Kabupaten Tebo, Koko Hadiwana membenarkan jika LP2LH Tebo telah menemui dirinya. “Tadi ketuanya (LP2LH) langsung yang menemui saya. Dia menanyakan sejauh mana proses perizinan perusahaan limbah daerah. Dia juga menanyakan seperti apa strategi penanganan limbah yang akan dilakukan oleh perusahaan limbah daerah,” kata Koko.

LP2LH, kata Koko, mengingatkan perusahaan limbah daerah agar melakukan aktivitas sesuai izan dan aturan. Apalagi, kata dia, yang bakal ditanggani oleh perusahaan limbah daerah adalah limbah medis.

“Limbah medis termasuk limbah B3. Jadi harus ditanggani secara khusus sebab sangat berbahaya bagi lingkungan. Itu yang diigatkan Ketua LP2LH kepada kita, “kata Koko lagi.

Kepada LP2LH, Koko menjelaskan bahwa perusahaan limbah daerah merupakan produk dari program FKH dengan Road map Green waste (pengolahan sampah atau limbah). Akan tetapi perusahan ini belum berjalan dikarenakan perizinan perusahaan sedang dalam proses pengkajian.

Koko juga menjelaskan bahwa rencana usaha perusahaan ini yang awalnya di area Kecamatan Tebo Tengah, tidak direkomendasikan oleh pihak Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD). Pihak BKPRD menilai Kecamatan Tebo Tengah tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Tebo untuk perusahaan limbah daerah.

Dijelaskan Koko, pada Perda RTRW No.6 Tahun 2013, perusahaan limbah daerah saat ini sedang merelokasi tempat penanganan Limbah B3 ke lokasi yang sesuai dengan Perda RTRW Kabupaten Tebo yakni di kawasan industri, tepatnya di Desa Muara Kilis, Kecamatan Tebo Tengah.

“Kita sudah dapat surat resmi dari hasil Rapat BKPRD bahwa lokasi yang kami usulkan tidak sesuai dengan RTRW Kabupaten Tebo, jadi permohonan kami untuk Izin Rencana Usaha Tempat Penyimpanan Sementara Limbah B3 tidak direkomendasikan di daerah Tebo Tengah,” ungkapnya.

"Alhamdulillah kita sudah dapat tempat di kawasan Industri di daerah Desa Muara Kilis. Semoga secepatnya proses rekom kesesuaian tata ruang dikeluarkan oleh tim BKPRD, agar kita bisa langsung melakukan rencana Usaha perusahan Limbah Daerah,” tutup Koko. (red)