google-site-verification=dwhumxho11lF8qf4pJiXSK3sIBkhfcmSWtJ8AJGJ7x4 Dihadapan Kajati, SAD Ngadu Soal Koperasi Telaga Indah ke Bupati Tebo

Advertisement


Dihadapan Kajati, SAD Ngadu Soal Koperasi Telaga Indah ke Bupati Tebo

Kamis, 11 April 2019


PORTALTEBO.id - Keberadaan koperasi Telaga Indah di Desa Tanah Garo, Kacamatan Muara Tabir, Kabupaten Tebo, Jambi sepertinya sangat mengusik warga Suku Anak Dalam (SAD) di desa itu.

Berbagai upaya pun dilakukan oleh warga SAD dibawah pimpinan Temenggung Ngadap untuk menolak aktivitas koperasi itu dari hutan tempat dan sumber hidup mereka.

Hal ini terlihat pada saat peresmian Gedung Pusat Informasi SAD di Simpang Stop, Desa Muara Kilis, Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo, Jambi yang dihadiri langsung oleh Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Jambi Andi Murwinah, Bupati Tebo Sukandar, para Forkompinda dan OPD serta masyarakat SAD.

Dihadapan Kajati Jambi dan Forkompinda, SAD Tanah Garo menyampaikan sikap menolak koperasi itu kepada Bupati Tebo Sukandar. Mereka juga minta kepada Sukandar untuk mencari solusi agar koperasi tersebut tidak melakukan aktivitas di lahan atau hutan tempat mereka hidup.

“Kita minta kepada Rajo Nangodang (bupati) menyelesaikan permasalahan kami ini. Kami tidak ingin hutan tempat kami hidup dikelola oleh koperasi. Kami juga tidak ingin masuk dalam anggota koperasi, “kata perwakilan SAD Tanah Garo.

“Biarlah hutan kami tetap jadi hutan. Jangan dialih fungsikan menjadi kebun sawit atau kebun karet. Selama ini kami nyaman tinggal dan hidup di sana, “kata SAD ini lagi.

Mendengar keluhan SAD Tanah Garo ini, Kajati Jambi Andi Murwinah langsung minta kepada Kajari Tebo Teguh Suhendro dan Bupati Tebo Sukandar, agar mencari solusi atas keluhan masyarakat SAD tersebut.

“Ini pak Kajari dan Pak Bupati, tolong dicarikan solusinya. Jangan sampai ada pihak yang dirugikan, apalagi masyarakat SAD,”kata Kajati.

Permintaan Kajati ini langsung ditanggapi oleh Bupati Tebo, Sukandar. Dia berjanji akan segera memanggil pihak koperasi,” Itu ketua koperasinya Zulkipli, saya kenal sama dia. Nanti kita panggil untuk duduk bersama, “janji Sukandar.

Diketahui, Suku Anak Dalam (SAD) Makekal, Desa Tanah Garo, Kecamatan Muara Tabir, Kabupaten Tebo, Jambi menolak keberadaan Koperasi Telaga Indah, namun koperasi tersebut tetap melakukan aktivitas mereka di sekitar lokasi SAD. Bahkan sudah beberapa hari ini pihak koperasi menurunkan alat berat di kawasan itu.

Untuk menghindari terjadinya hal yang tidak diinginkan, Senin siang (1/4) dilakukan pertemuan antara SAD dengan pihak koperasi di aula Kantor Camat Muara Tabir.

Pada pertemuan itu, pihak SAD tetap menolak keberadaan koperasi di wilayah atau hutan mereka. “Sejengkalpun kami tidak mau hutan kami dikelola oleh koperasi. Kami juga tidak mau masuk ke dalam kelompok tani ataupun koperasi,“ kata pimpinan kelompok SAD, Temenggung Ngadap usai mediasi dengan pihak koperasi Telaga Indah.

Tidak itu saja, Temenggung Ngadap juga minta kepada pihak koperasi segera mengeluarkan alat berat mereka dari lokasi SAD. “Dalam waktu seminggu ini alat berat harus sudah di keluarkan dari hutan kami. Jangan sampai ini nantinya jadi permasalahan,” kata Temenggung lagi.

Temenggung menegaskan, hutan SAD biarlah tetap menjadi hutan. Sebab, hutan tersebut tempat mereka hidup, tempat berteduh, tempat berlindung, tempat adat, tempat kami bersenang-senang dan juga tempat hidup anak cucu mereka kedepan. “Hutan kami biarlah kami yang mengurusnya. Jadi kami sangat menolak hutan kami dialih fungsikan. Kami juga tidak suka kayu (pohon) di hutan kami diambil,” kata dia menegaskan.

Menurut temenggung, keberadaan koperasi tersebut sangat merugikan warga SAD karena koperasi itu bakal menghabiskan hutan yang selama ini menjadi tempat mereka bernaung dan bertahan hidup.

"Kalo sudah dikelola koperasi, tentu hutannya akan dibabat dan digantikan dengan tanaman lain. Terus, kami mau hidup dimana?“ tanya Temenggung Ngadap.

Temenggung mengakui tidak tahu pasti berapa luasan area koperasi Telaga Indah. Namun yang diketahuinya sebagain hutan tempat mereka hidup masuk ke dalam area izin koperasi.

“Di area orang rimba yang masuk dalam izin koperasi itu ada tanah balai atau tempat sakral bagi anak suku dalam, ada hutan untuk melahirkan atau tanah peranak, ada hutan untuk tempat jenazah dan ada hutan untuk upacara adat serta hutan untuk kami bergantung hidup,” ujar Temenggung Ngadap.

Dengan alasan itu, Temenggung Ngadap sangat menolak keberadaan koperasi Telaga Indah. Ia meminta pemerintah untuk mengkaji ini kembali soal izin koperasi itu.

Terpisah, Camat Muara Tabir, Alfian membenarkan ada penolakan koperasi Telaga Indah oleh warga SAD Tanah Garo, Kecamatan Muara Tabir, Kabupaten Tebo, Jambi.

Menurut Alfian, penolakan tersebut dikarenakan pihak koperasi kurang melakukan sosialisasi dan kordinasi dengan pihak pemerintah desa maupun kecamatan juga warga. “Karena kurang sosialisasi dan kordinasi, maka terjadi ketidakjelasan antara warga SAD dengan koperasi,” kata Alfian.

Alfian menuturkan warga SAD merasa ketakutan dengan alat berat yang telah diturunkan oleh pihak koperasi. Sementara permasalahan belum dibicarakan baik dengan pemerintah desa maupun pemerintah kecamatan .

“Atas keresahan itu, warga SAD menyampaikan ke pemerintahan desa, dan pemerintahan desa menyampaikan kepada pihak kecamatan untuk dilakukan mediasi dan memfasilitasi mediasi antara warga SAD dengan pihak koperasi,” katanya.

Dari hasil mediasi disimpulkan, pihak koperasi menyampaikan bahwa hutan tersebut adalah milik negara dan tidak ada niat koperasi untuk mengusur hak-hak dari warga SAD, bahkan pihak koperasi mengajak SAD bergabung dengan koperasi untuk mengelola hutan tersebut.

“Pikir pihak koperasi SAD mau diajak bekerjsama sesuai dengan izin yang diperolehnya itu, yakni seluas 1.000 hektar lebih. Karena tidak ada kordinasi dan sosialisasi dengan masyarakat, keberadaan koperasi ditolak,“ kata dia lagi.

Dikatakan Camat, dari hasil mediasi disepakati bahwa koperasi tidak melakukan kegiatan di kawasan desa Tanah Garo. Koperasi juga diberi waktu satu minggu untuk dapat menarik alat berat mereka ke luar wilayah desa Tanah Garo. Seterusnya, pihak koperasi bersama masyarakat dan warga SAD akan menentukan tapal batas izin koperasi.

“Kesepakatan ini kita buat tertulis, saya menegaskan kepada kedua belah pihak yang melakukan mediasi agar sama-sama menahan diri dan tidak melakukan tindakan yang melawan hukum, apalagi ini mendekati Pemilu. Mudah-mudahan persoalan ini dapat diselesaikan dengan baik sesuai dengan aturan yang berlaku,” kata Camat.

Seperti yang diketahui pada 16 Desember 2018 lalu, Presiden Joko Widodo membagikan 6.000 sertifikat tanah untuk masyarakat Jambi. Sertifikat itu dibagikan Jokowi kepada masyarakat Jambi untuk 11 kabupaten/kota se-Provinsi Jambi.

Selain sertifikat tanah, Jokowi juga memberikan SK Perhutani kepada 3.000 masyarakat Jambi di hutan pinus.

Informasi yang dirangkum PORTALTEBO.id, Koperasi Telaga Indah diduga merupakan salah satu di antara 3.000 SK Perhutani yang diserahkan Jokowi kepada masyarakat Jambi.

Sebelumnya sudah diberitakan pada awal Februari lalu bahwa Ketua Koperasi Telaga Indah, Zulkifli menepis jika keberadaan koperasi mendapat penolakan dari SAD Makekal, Desa Tanah Garo. (red)