Kajati Dorong Eksistensi dan Legalitas SAD Sebagai Masyarakat Adat

Advertisement

Kajati Dorong Eksistensi dan Legalitas SAD Sebagai Masyarakat Adat

Kamis, 11 April 2019


PORTALTEBO.id - Sepertinya keberadaan Suku Anak Dalam (SAD) atau Orang Rimba Jambi di Kabupaten Tebo mendapat perhatian khusus dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jambi.

Ini terbukti, sudah dua kali Kepala Kejati Jambi Andi Murwinah mengunjungi SAD di Simpang Stop, Desa Muara Kilis, Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo.

Pada kunjungan kedua, Rabu kemarin (10/04/2019), Kajati Jambi meresmikan Gedung Pusat Informasi SAD yang dibangun dari dana CSR BNI 46. “Ini kujungan kedua saya ke sini,” kata Andi Murwinah dalam sambutannya. .

Pada kunjungan pertama kata dia, pihaknya melaksanakan sosialisasi sekaligus menyerahkan mobil pintar atau mobil perpustakaan keliling. Mobil pintar tersebut diserahkan dia kepada pendamping SAD dalam hal ini Yayasan Orang Rimbo Kito (ORIK) yang digagas oleh Kajari Tebo, Teguh Suhendro. .

Mobil pintar, ujar Kajati, adalah bekas mobil tahanan yang telah dimodifikasi menjadi mobil perpustakaan. “Tujuannya untuk meningkatkan minat baca pada masyarakat pedalaman khususnya SAD,” kata Kajati lagi.

Kajati bertutur, sebelumnya Kejati Jambi melalui Kejari Tebo mengagas progam “Jaksa Masuk Rimba”. Program ini awalnya untuk memberikan sosialisasi hukum kepada SAD. “Program Jaksa Masuk Rimba ini mendapat apresiasi dari Kejaksaan Agung (Kejagung). Kejagung pesan agar program ini terus dilaksanakan, “kata Kajati.

Diakui Kajati, tercetusnya program Jaksa Masuk Rimba berawal dari sosialisasi hukum positif yang dilakukan oleh Kepala Seksi Intelijen Kejari Tebo, Ikrar Demarkasi kepada warga SAD. Waktu itu, lanjut Kajati menjelaskan, Kasi Intel Kejari Tebo didampingi oleh LSM Pelita Kita

Seiring berjalan, karena pergantian jabatan dan keterbatasan gerak, akhirnya kejaksaan membuat program Jaksa Masuk Rimba. Tidak itu saja, kejaksaan bersama pendamping SAD mendirikan Yayasan Orang Rimbo Kito yang programnya khusus untuk memperjuangkan hak dasar SAD. “Alhamdulillah, program Jaksa Masuk Rimba mendapat posisi harapan II di Kejagung. Pesan Jaksa Agung program ini harus diteruskan dilaksanakan, “kata dia.
“Selain pemahaman tentang hukum positif, pada program Jaksa Masuk Rimba, kita ingin menunjukkan bahwa jaksa itu tidak kejam dan tidak sadis seperti yang pikiran. Jaksa mampu berbaur dengan masyarakat bahkan sampai masyarakat pedalaman, “kata Kajati.

Agar keberadaan masyarakat SAD dan adat istiadatnya mendapat posisi yang layak, Kajati minta kepada Pemkab Tebo agat mengakui secara legalitas SAD sebagai masyarakat adat. “Keberadaan masyarakat adat diakui negara itu berdasarkan UU. Jadi kita ingin ada eksistensi dan legalitas SAD sebagai masyarakat adat. Dan ini akan kita dorong hingga diakui,“katanya. (red)