google-site-verification=dwhumxho11lF8qf4pJiXSK3sIBkhfcmSWtJ8AJGJ7x4 Jengguk Keluarga Yang Ditahan di Polda, SAD Tebo Nekat ke Jambi Jalan Kaki

Advertisement


Jengguk Keluarga Yang Ditahan di Polda, SAD Tebo Nekat ke Jambi Jalan Kaki

Sabtu, 24 Agustus 2019


PORTALTEBO.id - Sejumlah Suku Anak Dalam (SAD) Kabupaten Tebo yang mayoritas anak-anak dan ibu-ibu bertekat tetap berjalan kaki ke Jambi. Tujuannya, mereka ingin menjenguk keluarga mereka yang di tahan di Polda Jambi. 

Selama diperjalan, sekitar 20 orang SAD ini membawa bekal seadanya, "Kita bawa tenda, tikar, periuk, dan sedikit makanan. Nanti dimana kami mau istirahat, di sana kami buka tenda, masak dan istirahat,"kata salah seorang ibu-ibu, Kata Sanggul yang akan berjalan kaki ke Jambi. 

Kata Sanggul mengatakan jika anak dia bernama Suni sudah satu bulan lebih ditahan di Polda Jambi. Namun sampai saat ini dia tidak pernah mendapat penjelasan terkait penahanan anaknya itu. "Dari kemarin-kemarin katanya bakal ada yang datang ke tempat kami, mau kasih penjelasan soal anak kami yang ditahan di sana. Tapi sampai sekarang tidak ada yang datang. Makanya kami putuskan untuk ke Jambi, "ujar dia. 

Sebagai seorang ibu, Kata Sanggul sangat khawatir akan kondisi anaknya itu. Apalagi ada yang bilang jika anak dan keluarganya yang ditahan di Polda Jambi kondinya tubuhnya sudah sangat kurus. "Kemarin ada yang telepon kelompok kami. Yang telepon itu mengatakan kalau keluarga kami yang ditahan menangis terus dan minta dijenguk. Betapa sedihnya kami mendengar kabar itu, "katanya. 

Meski kondisi Kata Sanggul terlihat sudah kurus, namun dia memutuskan untuk tetap berjalan kaki ke Jambi, "Dari pada kami mati di hutan, labih baik kami mati di jalan. Yang penting kami sudah berusaha untuk melihat anak kami yang di tahan di Polda. Mau kembali ke rumah juga ndak bisa, rumah kami sudah habis dibakar. Mau makan juga dak ada yang bisa dimakan. Tanaman kami sudah habis dibabat (dirusak dan di tebang),"katanya. 

Kembali dikatakan Kata Sanggul, dia sangat menyayangkan atas penangkapan keluar dan anaknya itu. Menurut dia, selama ini kelompok mereka selalu menurut arahan pemerintah dan selalu berbuat yang terbaik. "Kami diminta jangan berpindah-pidah, sekarang kami sudah hidup menetap dan punya rumah. Kami diajarkan berkebun, sekarang kami sudah berkebun. Tapi mengapa sekarang rumah kami dibakar, kebun kami dirusak. Anak-anak kami yang selama ini belajar dan dipekerjakan di PT WKS, kok malah mereka ditangkap,"ujarnya. 

Hal yang sama juga dikatakan Ketua Adat SAD, Sril. Dia mengaku mendampingi kelompoknya itu ke Jambi karena dia khawatir bakal terjadi hal yang tidak diinginkan selama di perjalan. "Ini banyak anak-anak yang ikut ke Jambi, takutnya nanti ada yang hilang di jalan. Ini ada juga yang lagi sakit. Makanya harus saya dampingi. Ini tugas saya sebagai Ketua adat di kelompok kami untuk menjaga mereka. Saya tidak mau nantinya disalahkan secara adat karena tidak mendampingi dan mengurus mereka, "kata Sril menjelaskan keberadaan dia di kelompok tersebut. 

Sril mengatakan jika kelompoknya yang pergi ke Jambi saat ini adalah anak-anak yang bapaknya di tahan di Polda, begitu juga istri yang suaminya di tahan di sana. 

Namun ujar dia, masih ada beberapa warga yang tidak bisa ikut ke Jambi karena kondisnya sudah sangat kritis dan mengasingkan diri bersembunyi di dalam hutan. "Makanya kami harus ke Jambi melihat keluarga kami yang di tahan di Polda. Jika kondisnya baik-baik dan sehat, ini yang akan kami jelaskan kepada keluarga kami di hutan agar mereka mau kembali berkumpul. Kalo kami belum melihat keluarga kami yang ditahan di sana, apa yang mau kami jelaskan kepada keluarga kami yang di dalam hutan. Juga kan wajar kami ke sana untuk menjenguk keluarga kami, "katanya. 

Pantauan PORTALTEBO.id, Kapolres Tebo, AKBP Zainal Arrahman beserta jajaran berupaya untuk memberi pengertian kepada warga SAD tersebut agar mengurungkan niat mereka berjalan kaki ke Jambi. Bahkan, warga SAD ini telah berkomunikasi dengan keluarga mereka yang di tahan di Polda Jambi melalui via video call. "Sudah lihat dan dengar sendirikan, mereka sehat dan baik-baik saja. Jadi jangan khawatir dengan keluarga yang di sana (Polda), mereka diperlakukan sebaik mungkin, "kata Kapolsek kepada warga SAD. 

Meski sudah mendengar dan melihat langsung keluarga mereka yang di tahan di Polda Jambi via video call, namun warga SAD ini tetap bertekad untuk ke Jambi. "Kami tetap ke Jambi, kami mau menjenguk keluarga kami yang di tahan di Polda, "kata warga SAD yang lain. 

Pendamping SAD, Ahmad Firdaus mengatakan jika tindakan warga SAD yang nekat berjalan kaki ke Jambi ini sudah yang keempat kalinya. "Kami sudah berupaya menahan mereka agar tidak ke Jambi, tapi mereka tetap bersikeras mau ke Jambi. Ya kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi, "kata Ketua Yayasan Orang Rimbo Kito (ORIK) ini. 

Dikatakan Firdaus, ada beberapa penyebab yang membuat warga SAD dampingan dia tersebut nekat berjalan kaki ke Jambi diantaranya, mereka sudah tidak punya tempat tinggal lagi karena rumah mereka habis dibakar, mereka juga tidak punya makanan karena kebun mereka sudah habis dirusak. "Pakaian yang mereka punya cuma tinggal dibadan itulah, selebihnya ikut terbakar bersama rumah mereka. Begitu juga dengan peralatan masak dan lainnya, semua sudah habis terbakar, "kata Firdaus menjelaskan. 

Selain itu kata Firdaus, alasan warga SAD tersebut ke Jambi karena mereka telah bosan menunggu Tim Terpadu (Timdu) yang berjanji akan mengunjungi mereka. "Sudah sebulan lebih mereka menunggu, tapi tidak juga ada yang datang ke tempat mereka. Sementara, kondisi mereka semakin memprihatinkan sekali, tidak ada makanan, tidak ada pakaian dan tempat tinggal, "ujarnya. 

Seterusnya kata dia, banyak isu yang beredar ditengah-tengah warga SAD yang membuat mereka ketakutan. Mulai dari isu semua warga SAD akan ditangkap, isu soal keluarga mereka yang ditahan di Polda Jambi disiksa, tidak diberi makan dan lain sebagainya, "Yang terbaru, ada yang menelepon mereka jika keluarga mereka yang ditahan di Polda menangis terus, badanya kurus dan minta dijengguk. Itu yang membuat mereka memaksakan diri ke Jambi untuk menjenguk keluarganya, "kata Firdaus. (red)