google-site-verification=dwhumxho11lF8qf4pJiXSK3sIBkhfcmSWtJ8AJGJ7x4 MALEFICENT 2 'Don't judge a book by its cover'

Advertisement

MALEFICENT 2 'Don't judge a book by its cover'

Sabtu, 19 Oktober 2019


Oleh: Bepi Lupita Sari

Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda ketika melihat sesuatu seperti menonton Maleficent. Bagi saya itu hal yang wajar karena itu adalah hak anda. Maleficent yang di kenal banyak orang  adalah 'perbuatan jahat'. Mengapa demikian? Jika anda sudah menonton Maleficent 1 pasti anda sangat tahu penyebabnya.

Setiap orang yang belum nonton Maleficent 2 pasti beranggapan bahwa  karakter maleficent yang di perankan oleh Angelina Jolie ber karakter Antagonis. Tetapi bagi saya tidak demikian! Maleficent bukan orang yang amat jahat yang ada dalam pikiran saya, sesudah saya  menonton.

Jika yang menjadi pusat perhatian besar di film ini adalah Peperangan, perpecahan, cinta tak di restui, kutukan Maleficent.  Begitu banyak konflik di film ini, bagaimana peren seorang yang di anggap jahat bisa memberikan kedamaian pada ending cerita film ini, mempersatukan dua kerajaan.

Setiap orang punya pandangan yang jahat tetaplah menjadi penjahat selamanya, ada pula orang beranggapan orang jahat tidak selamanya menjadi penjahat. "seindah apapun seseorang tidak akan tampak keindahannya jika kau melihatnya dari cermin yang kotor, hati mu adalah cermin itu.  Jagalah kebersihannya. Bahkan terhadap penjahat paling laknat sekalipun,  pandanglah ia dari jendela hati yang bersih".

Sama hal nya anda hanya membaca cover buku, coba deh baca dan pahami isi nya, baru anda bisa menilai buku tersebut. Saya tekankan sekali lagi jangan pernah melihat orang dari satu sisi saja. Saya yakin kalian mempunyai  paradigma yang berbeda.

Kalian ingat tidak? Adegan dimana ayah pengeran philip mengundang keluarga Aurora untuk makan malam bersama, dengan maksud untuk membicarakan tentang pernikahan Aurora dengan pengeran philip.

Pada saat di kerajaan kemarahan Maleficent terhadap kerajaan itu ketika Ratu Ingrith sang ibu philip ingin mengambil hak asuh Aurora dengan menjadikan sang putri sebagai istri dari anak lelakinya. Bagi kita pasti sangat tidak masalah dengan adegan itu, malahan sangat senang bukan? lain hal nya dengan Maleficent dia sangat marah jika anak kesangannya di ambil asuh oleh orang lain, padahal Aurora adalah anak asuh Maleficent bukan anak kandung.

Pada saat itu kerajaan sangat kacau, sang ayah philip tergeletak pingsan, Ratu Ingrith bilang sang Raja di kutuk oleh Maleficent,  Aurora sangat sedih mengetahui bahwa ibu angkat nya berbuat seperti itu.  "Have you done" Kata Aurora.

Sang Raja di papah masuk ke kamar oleh para prajurit, semua orang sangat yakin penyebab Raja pingsan adalah kutukan Maleficent. Padahal tidak sama sekali Maleficent yang mengutuk sang Raja.

Pada kondisi itu Ratu Ingrith adalah penenang Aurora, dia berhasil mengambil hati Aurora. Adegan demi adegan akhirnya terbongkar juga kebusukan hati Ratu Ingrith. Ratu Ingrith merencanakan ingin menghancurkan Kerajaan moors. Dia berusaha mencari Dan mencari solusi agar penduduk moors musnah termasuk Maleficent.

Pada pertengahan adegan Saya sangat kagum dengan kelembutan Ratu Ingrith, Dan melihat Maleficent dengan wajah yang seram dan menakutkan. Di sini Saya banyak belajar bahwa dengan muka yang polos, baik, lembut tuturnya belum tentu sama dengan hati nya. Sangat tidak menjamin kebaikannya.

Maleficent dengan wajah yang seram, pemarah, dan sangat menakutkan. Dia bisa mendamaikan semua nya. Kehadiran Maleficent membuat dua kerajaan bersatu.

Setiap orang punya Masalalu sama hal nya film Maleficent 1. Saat dia berbuat satu kejahatan bukan seterusnya dia buat kejahatan pula. Dalam Islam pun sangat tidak berlaku bahwa Masalalu menentukan masa depan dengan ahklaknya. Bisa jadi saat pertengahan kehidupan yang dia jalani bisa menjadi orang yang sangat berperan dalam Peperangan untuk mempersatukan.

Pada akhirnya Aurora menikah dengan pengeran Philip. Dan Ratu Ingrith di kutuk oleh Maleficent menjadi kambing putih. Saya ingin menyampaikan bahwa tetap lah menjadi diri sendiri meskipun semua orang mengangap kamu orang yang paling jahat. Dan buktinya
kamu bukan yang demikian lagi.

[Mahasiswa UIN STS Jambi Jurusan Sastra Inggris]