google-site-verification=dwhumxho11lF8qf4pJiXSK3sIBkhfcmSWtJ8AJGJ7x4 Ombudsman Tindaklanjuti Kisruh di SMA Negeri 3 Tebo

Advertisement

Ombudsman Tindaklanjuti Kisruh di SMA Negeri 3 Tebo

Rabu, 23 Oktober 2019

PORTALTEBO.id - Kepala Ombudsman RI Perwakilan Provinsi Jambi Jafar Ahmad angkat bicara soal tuntutan siswa Sekolah menengah Atas (SMA) Negeri 3 Kabupaten Tebo yang menggelar aksi demo sampai dengan mogok belajar, Senin (21/10/2019) kemarin.

Dikutip dari laman Metrojambi.com, Jafar menegaskan, pihaknya sudah dari awal mengimbau kepada tenaga pendidik baik guru pegawai dan Kepala Sekolah (Kepsek) jangan pernah coba-coba melakukan tindakan di luar jalur yang sudah ditetapkan.

Terkait kejadian di SMA Negeri 3 Tebo, Jafar mengatakan jika ada data pihaknya akan menindaklanjutinya.

"Asal jelas datanya, kita tidak perlu mengunggu laporan lagi. Kita akan melakukan semacam minta klarifikasi," ujarnya saat dikonfirmasi.

Mengenai tuntutan para siswa, mulai dari minta Kepala Sekolah (Kepsek) SMAN 3 Tebo mundur, transparansi dana BOS, dugaan pungutan liar (Pungli) melalui permintaan keramik dan cat, serta mereka juga memprotes istri Kepsek juga diduga ikut campur, Jafar mengatakan itu tidak boleh.

"Permintaan (keramik) kalau wajib itu salah lalu kedua diminta membeli cat itu kalau diminta, tidak boleh kecuali semacam sumbangan dan sifatnya bukan suatu keseharusan apalagi kewajiban, apalagi idijadikan syarat itu sudah salah," terangnya.

Terkait dengan istri Kepsek diduga ikut campur, apabila tidak ada hubungan dengan pihak sekolah atau bukan pegawai, komite dan tokoh masyarakat  maka itu boleh dipertanyakan motif keikutsertaannya.

"Kalau semua yang disampaikan itu misalnya istri ikut campur dalam hal apa, cuma jangan jangan istrinya guru disitu, atau komite disitu misal, kalau kalau kan," jelas Jafar.

Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Kabupaten Tebo, M. Firdaus dituntut turun dari jabatannya. Pasalnya, ratusan siswa SMA Negeri 3 mengaku sudah gerah dan muak atas segala kebijakan yang dinilai terlalu kontroversial.

Beragam kebijakan Kepsek, dianggap sangat timpang dan terlalu memberatkan beban siswa. Akibatnya, ratusan siswa SMA 3 tersebut menggelar demo usai usai upacara bendera. (red)