google-site-verification=dwhumxho11lF8qf4pJiXSK3sIBkhfcmSWtJ8AJGJ7x4 POLITIK ‘COCOKOLOGI’

Advertisement

POLITIK ‘COCOKOLOGI’

Jumat, 25 Oktober 2019

Oleh: Bahren Nurdin

Jika anda betul-betul mengamati dinamika politik di Jambi menghadapi perhelatan Pilkada mendatang, maka dengan sangat jelas saat ini para politisi sedang sibuk ‘bermain’ cocok-cocok-an alias cocokologi. Si A coba dipasangkan dengan Si B, Si C digandeng dengan Si C, Si D digadang-gadang dengan Si E, dan seterusnya. Nampak sekali, semua bermain di wilayah opini. Partai politik pun tidak kalah seru ikut campur mencoba mencocok-cocokkan nama-nama yang muncul. Paling banter hanya menjadi ‘mak comblang’ dengan menentukan ‘mahar’.

Saya melihat, penentuan pasangan politik saat ini masih berlandaskan sesuatu yang sangat pragmatis alias kepentingan sesaat.

Mereka tidak berangkat dari sesuatu yang ‘kokoh’ seperti kesamaan ideologi, gaya kepemimpinan, visi, misi dan seterusnya. Karena mereka berangkat dari sesuatu yang ‘rapuh’, maka ketika terpilih akan sangat rentan terjadinya ‘perceraian’. Itulah fenomena yang sering terjadi banyaknya pasangan kepala daerah yang pecah kongsi di tengah jalan. Pembangunan dan kesejahteraan rakyat terabaikan!

Rentannya ‘perceraian’ pasangan kepala daerah di berbagai daerah saat ini salah satu penyebabnya adalah rapuhnya ‘tali pengikat’ yang digunakan. Paling tidak ada beberapa pengikat yang tergolong rapuh diantaranya:

 Pertama, modal politik (money oriented). Mereka maju bersama hanya diikat oleh modal uang. Siapa mengeluarkan berapa. Hal ini sangat rentan karena ketika mereka terpilih sudah sangat jelas orientasi kepemimpinan mereka juga hanya uang.

Endingnya bagi-bagi proyek. Jika ada yang mendapat bagian tidak sesuai dengan keinganan maka ‘perceraian’ dapat dipastikan.

Kedua, popularitas dan masa pendukung (elektabilitas). Cukupkah hanya menjadikan masa pendukung sebagai alasan menentukan pasangan kepala daerah? Hal ini agaknya yang perlu menjadikan perhatian kita semua.

Jelas sekali jika pengikat yang digunakan hanya perhitungan basis pendukung, ketika mereka terpilih akan sangat rentan ‘perceraian’ karena pada akhirnya mereka akan saling klaim. Apa lagi, jika mereka mulai menghitung dan salah satu dari mereka merasa paling berjasa dengan bahasa yang keluar ‘kita terpilih karena masa pendukung saya’.

Celakanya, dua hal ini pulalah yang saat ini sedang gencar-gencarnya mereka lakukan. Termasuk partai politik. Mereka hanya menghitung uang dan orang (pendukung). Si A punya uang dan Si B punya orang, jadi. Persoalan bagaimana nanti mereka memimpin setelah terpilih luput dari pandangan. Perkara bagaimana mereka menjalankan roda pemerintahan tidak jadi masalah. Seperti apa visi dan misi yang mereka miliki tidak jadi kajian. Yang penting menang!

Seyogyanya, pemilihan pasangan politik itu perlu pengkajian dan pertimbangan yang matang. Tidak hanya persoalan kalah dan menang, tapi bagaimana meraka mampu menyatukan visi dan misi, gaya kepemimpinan, ideologi yang dianut, dan lain-lain. Mereka harus benar-benar berangkat dari hal-hal yang kuat dan mengakar dengan menjadikan kepentingan rakyat di atas segalanya.

Hal ini agaknya yang masih ‘jauh panggang dari api’. Cocokologi yang mereka lakukan saat ini adalah cocok-cocok-an yang bersifat pragmatis, sarat kepentingan sesaat dan sekelompok orang.

Akhirnya, sesungguhnya rakyat menginginkan pemimpin yang betul-betul memiliki visi dan misi yang berorientasi pada pembangunan dan kesejahteraan rakyat. Pasangan politik yang tampil hendaknya bukan sekedar cocok-cocok-an yang harmonisnya hanya beberapa saat saja; selebihnya pecah kongsi.

Maka, sesuatu yang kuat harus memiliki akar dan fondasi yang kokoh, dan itu sudah harus dimulai sejak mencari bakal calon pasangan politik yang akan maju menjadi kepala daerah. Semoga.


Akademisi UIN STS Jambi.

Disesuaikan dari artikel tahun 2017 dengan judul yang sama dimuat di beberapa media.