google-site-verification=dwhumxho11lF8qf4pJiXSK3sIBkhfcmSWtJ8AJGJ7x4 Diduga Aktivitas Dompeng Cemari Air Irigasi di Desa Pagar Puding

Advertisement

Diduga Aktivitas Dompeng Cemari Air Irigasi di Desa Pagar Puding

Jumat, 01 November 2019


PORTALTEBO.id - Kondisi air bendungan irigasi di Desa Pagar Puding, Kecamatan Tebo Ulu Kabupaten Tebo beberapa pekan ini tampak keruh dan berlumpur. Kondisi ini sangat dikeluhkan oleh warga setempat yang mengunakan air tersebut untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Salah seorang warga di sekitar bendungan mengaku jika dari dahulu dia bersama warga yang lain mengunakan air bendungan itu untuk mandi, masak, dan mencuci pakaian. Namun kata dia, sudah beberapa bulan ini dia hanya mengunakan air bendungan itu untuk mandi dengan alasan karena airnya keruh dan berlumpur. “Untuk masak kami harus minta air bersih dari sumur bor warga,”kata warga yang tidak mau disebutkan namanya ini.

Hal yang sama juga dikatakan salah seorang ibu rumah tangga (IRT) yang juga tidak mau disebutkan namanya. IRT ini menceritakan jika dahulunya air di bendungan itu bersih dan jernih, dan dari dahulu juga dia bersama IRT lainnya mengunakan air tersebut untuk masak dan mandi.

Namun lanjut dia, sudah beberapa pekan ini kondisi air keruh dan berlumpur. Kondisi ini diduga akibat adanya aktivitas dompeng di yang berada tidak jauh dari lokasi bendungan. “Mudah-mudahan aktivitas dompeng tidak berlangsung lama biar air bendungan kembali bersih dan bisa kami gunakan lagi,”kata dia berharap.

Terpisah, salah satu aktivis lingkungan, Rio mengatakan jika banyak aktivitas di Kabupaten Tebo diduga merusak lingkungan dan terkesan ada pembiaran, termasuk aktivitas dompeng di desa Desa Pagar Puding Kecamatan Tebo Ulu yang diduga telah mencemari air bendungan atau irigasi di desa itu.

Dengan kondisi itu, Rio berharap pemerintah daerah segera mencari solusi agar aktivitas merusak lingkungan tidak lagi beraktivitas di Tebo. “Hasil survey kami di lapangan, mereka yang bekerja sebagai pendompeng karena tidak ada lagi pilihan pekerjaan lain. Soalnya mereka sulit untuk mencari kerja di Tebo,”kata Rio.

Selain itu lanjut Rio, murahnya harga komuditas karet dan harga sawit sangat mempengaruhi perekonomian masyarakat. Akibatnya, sebagan masyarakat yang selama ini mengandalkan hidup dari hasil komuditas itu beralih profesi menjadi pekerja dompeng. “Alasan mereka dari hasil karet dan sawit tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, makanya mereka beralih profesi menjadi pendompeng karena hasilnya juga menjanjikan,”kata Rio lagi.

Untuk itu, Rio berharap pemerintah daerah segera mencari solusi agar aktivitas dompeng tidak lagi menjamur di wilayah Kabupaten Tebo, salah satunya dengan membuka berbagai peluang kerja. Pasalnya menurut dia, hasil yang didapat dari mendompeng sangat tidak sebanding dengan kerusakan lingkungan akibat aktivitas illegal tersebut. “Memang ada beberapa pelaku aktivitas dompeng yang ditangkap. Tapi itu hanya pekerjanya saja. Sedangkan pemilik modal atau bos dompengnya tak tersentuh. Tapi itu juga bukan solusi karena mereka yang berdompeng butuh hidup,”ucap dia. (red)