google-site-verification=dwhumxho11lF8qf4pJiXSK3sIBkhfcmSWtJ8AJGJ7x4 Berhemat Atau Justru Konsumtif?, Diskon Dan Cashback Menurut Pandangan Islam

Advertisement

Berhemat Atau Justru Konsumtif?, Diskon Dan Cashback Menurut Pandangan Islam

Kamis, 05 Desember 2019

JAMBI -Memasuki era ekonomi modern. Semua hal dapat dengan mudah dimiliki, serta kecerdasan marketing yg membuat produsen saling berlomba agar dapat memikat konsumen terhadap produk yg mereka miliki. Akibatnya, masyarakat seringkali menyalahi pengertian dari kebutuhan konsumsi, konsumsi tidak lagi disinyalir bersasarkan pada kebutuhan, namun hanya mengikuti hawa dan nafsu saja. Perilaku tersebut menjerumuskan masyarakat pada perilaku konsumtif.
Menurut Sumartono (dalam Fransisca, 2005: 176), perilaku konsumtif adalah suatu prilaku yang tidak lagi didasarkan pada pertimbangan yang rasional, melainkan karena adanya keinginan yang sudah mencapai taraf tidak rasional lagi. Prilaku konsumtif melekat pada seseorang bila orang tersebut membeli sesuatu di luar kebutuhan (trend) tetapi sudah kepada faktor keinginan (want).
"Konsumen jangan makin konsumtif dan boros saat berbelanja dengan iming iming seperti paylater, cashback atau diskon, yang pada akhirnya akan terjerat utang," kata Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Ahad 10 November 2019.
Selain itu, Tulus mengingatkan supaya konsumen mencermati segala bentuk diskon yang diberikan, termasuk jenis barang yang diberikan diskonnya. Jangan terjerat bujuk rayu diskon, sebab banyak diskon hanyalah gimmick marketing, alias diskon abal abal.
Sejatinya discount adalah salah satu strategi promosi yang dilakukan untuk mendongkrak penjualan dengan berbagai macam cara. Tujuan pokok dari cara-cara itu membuat seolah-olah barang yang berlabel discount adalah barang murah dan kesempatan terbatas yang akan sangat menguntungkan apabila kita membelinya, seolah-olah orang akan merugi jika meninggalkan kesempatan emas itu. Pada dasarnya dulu discount adalah murni dan benar-benar merupakan potongan yang diberikan kepada konsumen dengan alasan-alasan tertentu. Tapi ada perkembangannya discount menjadi strategi jitu dalam pemasaran, khususnya barang retail yang pada kenyataanya sudah meninggalkan norma etis maupun keabsahan jual beli itu sendiri. (Santoso:2019)
Memanfaatkan diskon memang menjadi tips hemat yang bisa dilakukan. Sayangnya, diskon ini justru bikin Anda mudah tergiur untuk beli barang yang tidak dibutuhkan. Banyak orang terburu-buru membeli produk karena mereka mendapat diskon 50%. Kemudian menyadari bahwa mereka membuang-buang uang karena mereka bahkan tidak benar-benar membutuhkan produk itu sama sekali. Perilaku ini akan menjerat kita dalam pemborosan serta perilaku yang berlebihan dalam menggunakan uang.
Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Seandainya seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).”

Perilaku boros sudah terdapat dalil yang jelas di dalam Al-Qur'an:
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27).
Ada beberapa Prinsip dasar Perilaku konsumen islami, salah satunya adalah prinsip Kesederhanaan: Karena Sikap berlebih-lebihan sangat dibenci oleh Allah dan merupakan pangkal dari berbagai kerusakan di muka bumi. Sikap berlebih-lebihan ini mengandung makna melebihi dari kebutuhan yang wajar dan cenderung memperturutkan hawa nafsu atau sebaliknya terlampau kikir sehingga justru menyiksa diri sendiri. sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an surah al-A'raf ayat 31 yang artinya : "Wahai anak cucu Adam!  Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan sungguh Allh tidak menyukai orang-orang yang berlebihan-lebihan."
Satu hal yang mesti kita lakukan bila ingin memanfaatkan fenomena cashback dan diskon. Kita harus rajin dan cermat mencari informasi diskon secara berkala. Sehingga kita dapat memanfaatkan diskon tersebut pada momen yang tepat. Bukan pada saat kita tidak membutuhkannya.
Jadilah generasi muda yang melek teknologi dan tidak tergoda gaya hidup konsumtif. Fenomena cashback dan diskon memang harus dimanfaatkan. Tetapi bukan berarti kita harus belanja terus-menerus demi memperoleh diskon. (Melisa:2019).


Artikel ini disusun oleh: Lian undari permata sari, Adam Zedde, Almudatsir marion Attila, Nisa Oktavia, dan Fikri Asydiqi. Mahasiswa/i Prodi Akuntansi, Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Jambi.