google-site-verification=dwhumxho11lF8qf4pJiXSK3sIBkhfcmSWtJ8AJGJ7x4 TRUE LEADER: MEMIMPIN TIDAK HARUS MENJABAT

Advertisement

TRUE LEADER: MEMIMPIN TIDAK HARUS MENJABAT

Selasa, 10 Desember 2019

Oleh: Bahren Nurdin

Dalam sebuah seminar leadership, saya ditanya oleh seorang peserta, “apakah seorang pemimpin itu harus memegang jabatan tertentu?” Maka jawaban saya, “tidak harus!”

Coba amati, ada begitu banyak pemimpin besar di dunia justeru mereka diberi jabatan setelah terbukti mampu memimpin. Artinya, nilai-nilai kepemimpinan itu yang muncul terlebihdahulu baru diberi kepercayaan atau jabatan tertentu. Dan sebaliknya, ada banyak pejabat yang tidak bisa memimpin. Dia memegang jabatan tapi tidak bisa memimpin.

 Lantas seperti apa rumusannya? Saya menerapkan teorinya John Quincy Adams sebagai landasan dasar dalam mendefinisikan kepemimpinan (leadership), “if your actions inspire others to dream more, learn more, do more and become more, you are a leader” (jika perbuatan anda bisa menginspirasi orang lain untuk bermimpi setinggi-tingginya, belajar lebih banyak, melakukan berbagai hal, menjadi sesuatu yang diinginkan, maka anda adalah seorang pemimpin).

Mari kita cermati satu persatu. Pertama, your actions. Pemimpin itu menunjukkan kerja nyata. Aksi! Aksi dalam konteks ini adalah keteladanan. Seorang pemimpin itu harus mampu menunjukkan keteladanannya di tengah masyarakat yang pada akhirnya akan dicontoh dan jadikan model.

Keteladanan ini bisa dalam bentuk perkataan maupun perbuatan. Perkataan seorang pemimpin itu didengar dan perbuatannya dicontoh.

Kedua, menginspirasi (to inspire). Mengapa perkataan dan perbuatan para pemimpin sejati itu diikuti? Karena di dalamnya ada hikmah yang dapat ‘menggerakkan’ orang lain. Dengan mendengarkannya orang lain manjadi termotivasi untuk berbuat. Begitu juga dengan melihat aksi-aksi yang dilakukan membuat orang dengan suka rela mengikutinya.

Sederhananya, pejabat itu memerintahkan orang untuk melakukan sesuatu. Tapi, seorang pemimpin memberikan inspirasi yang membuat orang lain melakukannya sendiri tanpa perintah.

Lagi-lagi, seorang pemimpin hebat tidak menggunakan kekuasaannya untuk menguasai orang lain, tapi menggunakan ‘nilai-nilai’ untuk mempengaruhi orang lain. Jadi, jika ada orang hanya disegani karena jabatannya, dia belum boleh disebut pemimpin. Dia baru digolongkan sebagai pejabat atau penguasa.

Ketiga, bermimpi, belajar, melakukan dan menjadi. Paling tidak empat hal ini yang selalu dilakukan oleh seorang pemimpin terhadap orang lain dengan memberikan keteladanan dan inspirasi. Seorang pemimpin besar dipastikan memiliki mimpi-mimpi yang besar dan mampu mentransfer mimpi-mimpi itu kepada orang banyak sehingga orang memiliki mimpi yang sama.

Orang-orang kemudian terus tumbuh dan belajar mengejar mimpi itu. Pun, pemimpin yang hebat akan terus memberi pelajaran dengan contoh-conth dan keteladanan yang ditunjukkannya. Apa pun yang dia katakan dan perbuat menjadi rujukan bagi orang lain. Apa pun yang dia rencanakan menjadi rencana orang lain.

Pemimpin itu membuat orang lain mengerjakan banyak hal tanpa menggunakan ‘power’ atau embel-embel jabatan. Orang lain mau dan rela melakukan banyak hal karena digerakkan oleh inspirasi yang didapat dari seorang pemimpin. Bahkan, melakukan sesuatu yang lebih dari apa yang seharusnya mereka lakukan.

Pemimpin itu mengispirasi orang untuk menjadi sesuatu. Itu artinya, dia mampu membuat orang lain menggali potensi masing-masing dan mewujudkannya. Dorangan dan dukungan dari seorang pemimpin akan menjadi energi terbesar buat orang lain untuk menjadi apa pun yang mereka inginkan.

Akhirnya, pemimpin dan pejabat itu dua hal yang berbeda. Pejabat belum tentu bisa memimpin. Jabatan itu sangat bersifat administratif. Selagi syarat administrasinya terpenuhi, anda boleh jadi pejabat. Tapi, kepemimpinan itu nilai-nilai. Maka, tanpa jabatan pun, seorang pemimpin akan mampu menginspirasi orang lain untuk bermimpi, belajar, melakukan dan menjadi. Itulah nilai-nilai kepemimpinan. Anda pemimpin atau pejabat?

*Akademisi UIN STS Jambi