-->

Menu Bawah

Iklan

DAMPAK PETI: SUPPLY RACUN UNTUK SUNGAI BATANGHARI (2)

29/02/20, 20:19 WIB Last Updated 2020-02-29T13:19:46Z
masukkan script iklan disini
Oleh: Dr. Muhammad Ridwansyah

[Kesatu: Sungai Batanghari sudah tidak lagi sehat karena sudah terkontaminasi oleh racun-racun yang dihasilkan dari Peti. Penelitian ini lebih lanjut mencoba mengungkap permsalahan: Bagaimana kondisi saat ini akibat adanya aktivitas PETI (ilegal mining)?; Apa saja potensi dan dampak yang terjadi akibat aktifitas ilegal mining yang menyebabkan stakeholder dirugikan?]

Secara metodologi, selain mencermati data hasil analisis kualitas air sungai yang dilakukan DLHD Provinsi Jambi, penelitian ini juga menggunakan data primer. Sampel penelitian ini adalah warga atau masyarakat yang telah ditentukan jumlahnya. Jumlah keseluruhan sampel yang diambil adalah 100 sampel dimana dibagi dalam 5 Desa yaitu 3 Desa di Kabupaten Merangin dan 2 Desa di Kabupaten Batanghari. Untuk Kabupaten Merangin  diambil sekitar 70 sampel dimana dibagi dalam 3 Desa yaitu Desa Baru, Desa Tiga Alur dan Desa Limbur Merangin. 

Untuk Desa baru dan Desa tiga alur Kecamatan pangkalan jambu  diambil masing-masing 20 sampel sehingga berjumlah 40 sampel. Dua Desa ini paling banyak diambil sampelnya karena merupakan pusat penambangan emas skala kecil  (small holder mining) yang ada di Kabupaten Merangin yang mana berdampak pada pencemarannya ke Kabupaten lain yang ada di hilir sungai. 

Untuk Desa Limbur Merangin Kecamatan Pamenang Barat Kabupaten Merangin  diambil sekitar 30 sampel. Di Kecamatan ini di duga pernah ada penambangan emas skala kecil (small holder mining) menggunakan dompeng  tetapi tidak berlangsung lama karena masyarakat tidak menyukai aktivitas pertambangan tersebut.

Untuk Kabupaten Batanghari  diambil 2 Desa di Kecamatan Bathin XXIV  yaitu Desa Matagual dan Desa Koto Boyo. Di dua Desa ini di duga pernah ada aktivitas penambangan emas skala kecil (small holder mining) menggunakan dompeng. Masing-masing Desa  di ambil sekitar 15 sampel sehingga berjumlah 30 sampel.

Sebagai gambaran nyata apa sesungguhnya yang terjadi pada daerah-daerah ini, saya ingin menampilkan beberapa data penelitian baik berupa tabulasi angka-angka maupun hasil wawancara. Fakta-fakata ini, sekali lagi, agar dapat dijadikan ‘warning’ atau mendia untuk menumbuhkan kesadaran bersama betapa Peti sudah menimbulkan kerugian bagi kita semua.

Di Desa Baru, Kecamatan Pangkalan Jambu Kabupaten Merangin, misalnya, awalnya didapati bahwa sekitar 80% responden sangat senang dengan adanya tambang. 

Mereka yang tadinya hidup dari bertani dan berkebun ketika mulai ada kegiatan tambang ini maka banyak sekali warga masyarakat Desa baru yang ikut tertarik dengan kegiatan tambang ini. Kepala Desa mereka juga sangat setuju dan bahkan ikut-ikutan menambang emas. Perlu diketahui bahwa di Desa baru ini sistem penambangan emasnya adalah dengan menggali tanah bukan mendulang. 

Tanah yang tadinya merupakan sawah milik sendiri oleh warga ketika di dalamnya ditaksir ada kandungan emas maka sawah itupun digali untuk diambil emasnya. Kebanyakan masyarakat menggali emas dengan menggunakanakan excavator dan beberapa diantara mereka rela membeli excavator tersebut dengan harga yang mahal hanya untuk menggali emas. 

Namun setelah beberapa tahun berlalu, sekitar tahun 2016, masyarakat sudah mulai bingung kandungan emas yang ada di sawah-sawah mereka sudah tidak ada lagi bahkan nyaris habis. Ketika sudah tidak ada lagi kandungan emas di sawah-sawah milik warga mereka pun mulai merasa menyesal karena lahan bertani mereka sudah mereka rusak sendiri. 

Sawah yang tadinya sudah digali ditimbun lagi untuk dijadikan tempat bercocok tanam. Entah bisa digunakan atau tidak lagi sawah tersebut warga mencoba untuk membuat sawah mereka bisa ditanami padi lagi. Penyesalan selalu datang di belakang.

Apa komentar masyarakat kemudian? Melalui artikel ini saya tampilkan salah satu dari sekian banyak hasil wawancara yang dilakukan. Nama narasumber tidak saya tampilkan di media ini. 

 “Saya adalah penduduk asli desa ini sejak sebelum adanya tambang emas muncul di sekitaran pemukiman saya. Dulu di desa ini banyak lahan hijau yang belum terjamah tetapi sekarang banyak tanah yang yang berbatu batu dan tidak rata akibat adannya pertambangan emas tersebut. 

Pertambangan emas telah banyak membuat sawah di sekitar desa ini rudak karena dikeruk dan dihancurkan untuk diambil emasnya. Sungai di sekitar desa ini pun menjadi korban pertambangan juga sehingga air sungai tersebut sekarang tidaklah sejernih dahulu meskipun sekarang orang yang menabang emas sudah menurun dan sedikit.” (Mr.X)

Ini dampak yang paling mengerikan. Apa yang terjadi dengan air yang mereka konsumsi? (Bersambung)

Staf pengajar FEB Universitas Jambi dan Natural Resources Economist
Komentar

Tampilkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terkini