-->

Menu Bawah

Iklan

PENTINGNYA ‘COMMON ENEMY’ MELAWAN COVID-19

Portal Tebo
15/04/20, 12:35 WIB Last Updated 2020-04-15T05:35:46Z
masukkan script iklan disini
Oleh: Bahren Nurdin

Jika disederhanakan, maka urutannya akan menjadi ‘common enemy’ (musuh bersama) akan menciptakan ‘common sense of crisis’ (keperihatinan bersama) yang pada akhirnya akan membentuk ‘common action’ (bertindak melawan bersama).

Artinya, urutan ini harus benar-benar tercipta di tengah masyarakat dalam menghadapi pandemic Covid-19 saat ini. Siapa pun di Bumi Nusantara ini harus membentuk dan memiliki tiga hal ini. Jika berhasil menciptakan tiga hal ini dalam setiap diri anak bangsa, maka akan akan mempermudah jalan dalam menghadapi virus ganas ini. Namun sebaliknya, jika tidak tercipta kebersamaan maka akan berat, paling tidak bagi pemerintah.

*COMMON ENEMY*
Menjadikan Covid-19 sebagai musuh bersama adalah fondasi awal dalam melakukan perlawanan. Hal ini dulu yang pernah dilakukan oleh para pejuang bangsa kita. Meraka berhasil menciptakan Belanda sebagai bangsa penjajah yang dijadikan ‘common enemy’. Setiap orang, dari Sabang sampai Merauke memasukkan ke dalam memori mereka  bahwa Belanda adalah penjajah. Belanda adalah musuh. Belanda harus dilawan!

Dalam konteks menghadapi Covid-19 ini, apa yang harus dilakukan oleh pemerintah saat ini adalah menciptakan ‘common enemy’. Ya, menciptakan! Salah satu cara untuk menciptakan ‘common enemy’ tersebut adalah dengan memperbanyak kampanye bagaimana bahayanya virus ini. Bagaimana virus ini akan merugikan setiap orang. Virus ini akan menyerang setiap orang. Virus ini akan membunuh banyak orang, dan seterusnya.

Setiap orang memiliki potensi yang besar untuk menjadi korbannya. Tidak ada yang boleh merasa aman!

Alam bawah sadar masyarakat sudah harus ditanamkan sugesti perlawanan. ‘Kebencian’ dan ‘permusuhan’ terhadap lawan sudah benar-benar tercipta. Bahkan, jika perlu, ketika mereka milihat gambar atau berita tentang virus ini, ada ‘geram’ dalam diri mereka untuk melawan.

*SENSE OF CRISIS*
Jika ‘common enemy’ sudah terbentuk dalam setiap benak masyarakat, maka dapat dipastikan akan menimbulkan ‘common sense of crisis’ atau rasa keperihatinan bersama. ‘Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh’ tercipta pada level ini. Akan saling menguatkan dalam kondisi yang berat.

Dampaknya, masing-masing orang akan bersedia memberikan pengorbanan terbaik mereka. Lihatlah masa penjajahan dulu, semua batas-batas sosial menjadi lebur (kaya, miskin, di desa, di kota, tua, muda, ningrat, awam, cendikiawan, petani, nelayan, pegawai, pedagang, dan siapa saja) memiliki ‘rasa sakit’ yang sama dan melawan (penjajah) bersama.

‘Penjajah’ kita saat ini adalah Covid-19. Kita telah dibuatnya sakit bersama. Maka sakit ini harus kita rasakan bersama dan hadapi bersama dengan memberikan pengorbanan terbaik dari apa yang kita miliki.

*COMMON ACTION*
Setelah sukses menjadikan musuh bersama dan keperihatinan bersama, maka selanjutnya adalah aksi bersama. Saya sangat yakin, jika ini sudah tercipta maka pemerintah tidak memerlukan polisi untuk sekedar memaksa masyarakat mengenakan masker, mencuci tangan, menutup mulut ketika batuk, dan lain sebagainya. Mereka akan melakukannya sebagai aksi bersama dengan kesedaran bersama.

Pada level ini, peran pemerintah hanya bertindak sebagai pengambil kebijakan-kebijakan sementara pelaksanaannya dilakukan sepenuh hati oleh masyarakat. Karena sudah menjadi musuh bersama, maka jika ada sebagian masyarakat yang tidak melakukan tindakan perlawanan bersama, mereka akan menjadi musuh yang sama. Bisa jadi, mereka dianggap sebagai ‘penghianat’ bangsa.

Lebih dari itu, bertindak tidak sesuai dengan apa yang dilakukan orang banyak, akan menjadi sebuah anomali (keanehan). Sama halnya melihat pribumi bekerja sama dengan Belanda di masa penjajahan. Ada aksi yang berlawanan dengan apa yang dilakukan oleh orang banyak.

Akhirnya, penting sekali untuk menjadikan Covid -19 sebagai ‘common enemy’ bagi bangsa ini sehingga menciptakan rasa sakit bersama yang pada akhirnya melakukan aksi perlawanan bersama bagi siapa saja di negeri tercinta ini. Saya melihat, mengapa sampai saat ini tindakan-tindakan perlawanan masih sangat parsial, karena kita belum sepenuhnya memperlakukan Covid-19 sebagai musuh bersama!

_*Akademisi UIN STS Jambi dan Direktur Pusat Kajian Demokrasi dan Kebangsaan [PUSAKADEMIA]_
Komentar

Tampilkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terkini