Menu Bawah

Iklan







Harus Membayar Uang Pengganti Sebesar Rp659 Juta, PH Suyadi Bakal Banding

Portal Tebo
04/05/20, 23:33 WIB Last Updated 2020-05-04T16:34:15Z
masukkan script iklan disini

PORTALTEBO.id – Upaya hukum lanjutan atas vonis mejelis hakim pengadilan Tipikor Jambi terhadap terdakwa mantan kepala dinas PMD kabupaten Tebo, Suyadi dipastikan akan melakukan banding (PT). Bahwa dengan dituntut ganti kerugian pengganti sebesar Rp.659 juta terdakwa menyatakan banding. 

Dikutip dari laman jambiotoritas.com, Penasehat hukum terdakwa, Tomson Purba menyatakan dalam tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) telah menyatakan salah menggunakan wewenang, memasukkan pengadaan lampu penerangan jalan di dalam RAPBDes Desa.

” Jelas penuntut umum tidak mengetahui tata cara pengadaan barang dan jasa di Desa. Ini akan menjadi point dalam banding kita,” kata Tomson, via Whatsapp, Senin (4/5/2020) malam.

Dikatakan Tomson bahwa dalam hal ini terjadi kesalahan penuntutan oleh JPU. Dia menyebutkan tidak ada jelas kerugian negara yang mana disebutkan JPU itu.

”Nuntutnya salah, tidak ada jelas kerugian negara yang mana disebutkan oleh JPU, karena fakta kerugian negara tidak lebih dari 100 juta. Menurut ahli BPKP menyatakan tidak lebih 100 juta. Lantas kerugian 659 juta datangnya darimana?,” ucap Tomson.

Diketahui, Hakim Pengadilan Negeri Tipikor Jambi menyatakan mantan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Kabupaten Tebo, Suyadi terbukti melakukan tindak pidana korupsi pada Pengadaan Lampu Penerangan Jalan Umum (LPJU) Tebo tahun anggaran 2017.

Atas kesalahan itu, terdakwa dijatuhi hukuman 3 tahun 6 bulan penjara, serta denda sebesar Rp.100 juta, Subsider 1 bulan kurungan.

Selain penjara dan denda kata dia, Suyadi juga dijatuhi hukuman membayar uang pengganti sebesar Rp659 juta. Jika tidak dibayar, maka harta benda terdakwa disita untuk menutupi kerugian negara. Namun jika tidak mencukupi, maka diganti dengan hukuman penjara selama 1 tahun. (red/JOS)

Komentar

Tampilkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terkini