Menu Bawah

Iklan

RS di Jambi Tidak Ingat Alat Rapid Test, Tim Gugus Tugas Masi Bungkam

13/05/20, 14:25 WIB Last Updated 2020-05-13T07:25:56Z
masukkan script iklan disini
Ilustrasi/NET

PORTALTEBO.id - Aneh! inilah ungkapan ketika pihak rumah sakit rujukan penanganan Covid-19 mengaku tidak ingat dengan alat rapid test yang mereka pakai.

Keanehan ini diungkap oleh Sofran, Humas RSUD Raden Mattaher Jambi sewaktu ditanyakan spek alat rapid test termasuk merek dan asalnya, apakah bersumber dari bantuan pemerintah pusat, sumbangan atau pengadaan sendiri.

Alat rapid test belakangan jadi sorotan karena munculnya kontroversi tentang keakurasian alat tersebut seperti yang terjadi di Bali dan dugaan tempat lainnya.

Selain soal keakurasian ada pula soal harga dan merek yang hingga kini 'bermasalah" dan masih simpang siur. 

Sofran, Humas RSUD Raden Mattaher ketika dihubungi via telp mengaku tidak tau apa merek alat rapid test yang dipakai di rumah sakit karena dia sendiri belum pernah di rapid test.

Untuk mengetahui hal tersebut ia  meminta waktu untuk menanyakan terlebih dulu ke pihak yang kompeten termasuk pihak pengadaan di RSUD.

Di waktu bersamaan media ini juga menanyakan juru bicara tim gugus tugas Covid-19 provinsi jambi untuk perihal yang sama. 

Tak berselang lama, Sofran memberikan tanggapan bahwa katanya kawan-kawan (Petugas RSUD - Red) tidak ingat apa merek alat rapid tes yang mereka pakai.

Namun anehnya ia menyampaikan bahwa alat rapid tes di RSUD ada bersumber dari bantuan dan ada dari pengadaan sendiri.

"Kawan-kawan dak ingat apa mereknya. Pengadaan, Bantuan rapid pernah juga" tulis Sofran melalui WhatsApp paska dirinya menanyakan pihak terkait di rumah sakit (12/5/2020).

Media ini selanjutnya menghubungi Ferry, Direktur Utama atau kepala RSUD Raden Mattaher untuk mencari kejelasan namun sambungan telp yang dilakukan kemarin sore (12/5) tak kunjung diangkat.

Begitu pula dengan tim gugus tugas covid-19 Provinsi Jambi hingga berita ini di turunkan belum memberi tanggapan padahal tim ini setiap hari mengumumkan hasil rapid test, hasil uji swab, tabulasi data ODP dan PDP hingga pasien positif kab/kota di provinsi jambi terkait penanganan Corona.

Sebagaimana diketahui, Sejak virus Corona mewabah di Indonesia hingga pertengahan bulan lalu, April 2020, Prov. Jambi sudah mendapat bantuan alat rapid test sebanyak dua kali dari Kemenkes RI.

Johansyah, Selaku juru bicara tim gugus tugas penanganan covid-19 Prov.Jambi menyampaikan bahwa Pemprov Jambi sudah mendapat bantuan alat Rapid Test dari Kemenkes RI pertama sebanyak 2400 dan kedua sebanyak 2000 unit. 

"Kita sudah rapat kembali bersama wakil ketua tim gugus tugas penanganan Covid-19 Provinsi Jambi, Pj sekda ada berapa hal yang kita lakukan pertama untuk penambahan rapid test, kita sudah dapat bantuan kembali dari Kemenkes sebanyak 2000," ujar Johansyah saat Konferensi pers (17/4/2020) lalu.

Menurutnya, sebelumnya Provinsi Jambi sudah mendapatkan alat Rapid Test sebanyak 2400 dan sudah digunakan sebanyak 650 Rapid Test.

"Artinya dari tahap pertama 2400 di tambah 2000, penggunaan sudah dilakukan sekitar 650 Rapid Test," ungkapnya di waktu itu.

Namun Johansyah pada waktu itu sepertinya memang luput menyampaikan secara spesifik alat rapid test yang diterima itu.

Apakah hal itu terkait merek, rupa atau bentuk alat rapid test yang dimaksud sehingga hal ini masih menjadi pertanyaan apakah alat rapid test itu sama dengan yang di Bali yang belakangan menuai masalah.

*Distributor Tarik Alat Rapid Test*

Alat Rapid Test terkait penanganan covid-19 di daerah Bali belakangan membuat heboh dan ditarik dari peredaran.

Seperti alat rapid test yang digunakan untuk warga Banjar Serokadan, Desa Abuan, Kab. Bangli, Bali, pada 30 April lalu yang diduga memiliki masalah teknis. 

Lantaran hasil tes positif mencapai 443 dari 2.640 warga sehingga melahirkan dugaan tingkat akurasi yang rendah dan bisa menimbulkan false positive. 

Alat rapid test yang digunakan adalah berjenis VivaDiag IgG/IgM COVID-19 dengan Lot no 3097. 

PT Kirana Jaya Lestari selaku perusahaan distributor alat rapid test mengatakan telah menarik seluruh alat dengan spesifikasi tersebut dan menggantinya dengan alat baru.  

"Penghentian penggunaan dan penarikan sementara khusus untuk Lot no 3097 dari semua fasilitas pelayanan kesehatan yang telah menerima Lot no 3097 dan digantikan dengan produk Lot number berbeda," kata Direktur PT Kirana Jaya Lestari, Aurelia Kirana Lestari, lewat keterangan tertulis diterima kumparan Senin (11/5/2020).

PT Kirana Jaya Lestari juga telah melaporkan persoalan ini ke Kementerian Kesehatan RI dan sebagai distributor juga meminta produsen di China untuk mengecek permasalahan teknis ini.

Sementara itu Emiten farmasi PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) melakukan penghentian sementara distribusi rapid test jenis biozek yang merupakan produk dan manufaktur Inzek International Trading BV Belanda.

Hal ini ditenggarai oleh temuan investigasi tim Tempo dan Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP) dalam pemberitaannya yang menyebutkan bahwa alat tersebut diproduksi di China dan akurasinya sangat rendah.

“PT Kimia Farma Tbk. melakukan langkah-langkah yakni meminta klarifikasi kepada Inzek International Trading BV Belanda atas pemberitaan tersebut, melakukan penghentian sementara distribusi rapid test sambil menunggu hasil klarifikasi dari produsen,” tulis manajemen dalam rilis persnya yang diterima Bisnis.com, Rabu (13/5/2020). (red/wil)
Komentar

Tampilkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terkini