-->

Menu Bawah

Iklan

KolaborAksi Kembali Menggelar Diskusi Panel Bersama Penggiat Lingkungan di Tebo

11/06/20, 01:29 WIB Last Updated 2020-06-10T18:29:38Z
masukkan script iklan disini

PORTALTEBO.id - Bertempat di caffe seduduk Muara Tebo, kegiatan diskusi panel dengan tema "Bukit 30 Dalam Prespektif" di inisiasi oleh KolaborAksi dihadiri oleh beberapa penggiat Lingkungan serta perwakilan stack holder PT. RLU, Rabu (10/06/2020).

Mengawali diskusi, Ryan dari KolaborAksi selaku moderator memberikan kesempatan  kepada narasumber pertama yakni Jawir Hafizi, tokoh pemuda yang juga Ketua GP Ansor Tebo, memberikan materi diskusi. 

Menurut pandangan Jawir, permasalahan Bukit 30 tidak terlepas dari konflik, baik itu lahan dan sebagainya. Pasalnya kata dia, kawasan hutan Tebo saat ini khususnya di bentang selatan Bukit 30 sudah dibebani oleh izin pengelolaan, baik itu IUPHHK-HTI, RE, hingga HTR.

Izin tersebut menurut dia lagi, secara langsung merupakan investasi kepada pemerintah daerah dan kelola sosial yang diharapkan berdampak kepada kesejahteraan masyarakat di sekitar konsesi. 

Usai Jawir, Oktaviandi Mukhlis Ketua Pelita Kita memberikan pandangan perspektif tentang Bukit 30 dari sisi NGO lokal. Kata dia, saat ini konflik yang terjadi tidak dapat dielakkan baik itu antara masyarakat dengan pemegang izin ataupun masyarakat dengan hewan. 

Oleh karena itu lanjut dia, harus ada pemahaman kepada masyarakat baik melalui sosialisasi maupun pendampingan. Dengan tujuan agar masyarakat bisa memahami dan berpartisipasi dalam pengelolaan sumber daya alam secara lestari. 

Pada kesempatan itu juga, Marapul mewakili PT RLU menyampaikan bahwa, perusahaan dalam menjalankan pengelolaan konsesi HTInya sangat memperhatikan aspek kelestarian, baik produksi, ekologi, hingga sosial. 

Khusus pada aspek kelola sosial kata dia, hingga saat ini telah terbentuk 8 Kelompok Tani Hutan (KTH) yang menjadi mitra pengelolaan, dan 7 kelompok KTH dalam proses. "Kedepan, kerjasama kemitraan yang mengadopsi dari PermenLHK 63/2016 ini akan menjadi salah satu prioritas perusahaan dalam meresolusi konflik tenurial dan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal" katanya. 

Ketua PD AMAN Tebo, Dedi mengatakan, saat ini masih terjadi disintegrasi kebudayaan masyarakat adat yang harus disikapi bersama. Juga kata dia, banyak program yang dijalankan di Bukit 30 tetapi belum dirasa maksimal berdampak positif kepada masyarakat, khusus kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat

"kedepan kita perlu menata dan mempertahankan kearifan lokal. Aman dalam hal ini berencana akan membangun sekolah adat di sekitar Bukit 30, tujuannya agar kepercayaan dan rasa cinta terhadap adat istiadat meningkat. Mohon dukung dari semua pihak agar cita-cita mulia ini dapat segera terwujud dan berdampak positif bagi masyarakat adat di Tebo," kata dia. 

Selanjutnya, Ketua DPD LP2LH Tebo, Hary irawan mengatakan, potensi Sumber Daya Alam (SDA) yang berada di Bukit 30 sangat luar biasa, Salah satunya kata dia, ialah air terjun.

Menurut dia, bila potensi itu bisa dikelola dan dimanfaatkan oleh masyarakat lokal melalui sektor pariwisata, hal itu bisa meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

"Saya harap hal ini bisa menjadi perhatian khusus pihak PT. RLU agar bisa berkolaborasi  membangun komitmen bersama dalam upaya menjaga potensi SDA yang ada di Bukit 30," kata dia

Diakhir diskusi, Oni selaku koordinator KolaborAksi berharap pertemuan ini akan menjadi komunikasi awal yang baik antara pihak perusahaan dan NGO lokal," Mari kita bersama-sama membangun komitmen dalam menjaga kelestarian alam khususnya di Bukit 30," tutupnya. (red/wan)

Komentar

Tampilkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terkini