-->

Menu Bawah

Iklan

Pilkades Di Lubuk Mandarsah Beraroma TSM dan Money Politik

Portal Tebo
20/12/20, 11:46 WIB Last Updated 2020-12-20T04:46:43Z
masukkan script iklan disini


PORTALTEBO.id - Kemarin Sabtu (18/12) Di Desa Lubuk Mandarsah, Kec. Tengah Ilir, Kab. Tebo, Jambi, Melakukan proses pemilihan kepala desa. Menurut informasi yang diperoleh proses pemilihan bukan saja terindikasi money politik tapi juga mobilisasi pelajar SMP dalam pencoblosan, hingga dugaan keteledoran panitia dan pengawas dalam mengawal proses pemilihan.    


Yahya, Salah seorang warga yang melihat langsung kepada media ini bercerita, Dugaan kecurangan diantaranya pada TPS 4 dusun Tanjung Pauh yang mana TPS ini lokasinya berdekatan dengan rumah salah satu calon sebab ada dugaan mobilisasi pelajar dalam pemilihan dan dugaan money politik.


Ketika hal ini ditanyakan ke panitia yang ada di TPS, Sambung Yahya, Katanya anak-anak itu sudah tidak sekolah. 


Namun ketika dikonfirmasi ke kepala sekolah mereka merupakan pelajar aktif karena siswa kelas 2 SMP nya.


“Foto anak yang gak pake seragam itu kata panitia sudah tidak sekolah tapi kami penasaran kami tanya ke kepala sekolah ternyata anak yang nyoblos itu masih sekolah dan masih kelas 2 smp” Terang Yahya.  Dan anak-anak ini menurutnya masih berhubungan keluarga dengan Zulfan karena masih keponakan.


Selain itu ada pula anak-anak yang nyoblos pakai seragam pramuka dan itu anak kelas 1 SMK belum memiliki KTP.


”Sebenarnya anak-anak SMP itu sudah banyak dari pagi cuma saya datang kesana sekitar jam 11 lewat (Siang) dan setiba disana saya duduk di warung depan TPS 4. Nah, Disitulah saya melihat langsung anak-anak sekolah itu datang masuk membawa kertas undangan kemudian saya dokumentasi” ujarnya. 


Panitia di TPS ini menurut Yahya masih berhubungan keluarga dengan calon nomor satu, ketua BPD selaku pengawas dan Kaur desa setempat selaku Ketua panitia Pilkades. 


Hal senada disampaikan Amin. Kepada media ini ia bercerita dirinya sudah mengecek langsung ke kepala sekolah bersangkutan untuk memastikan apakah anak-anak ini masih sekolah atau tidak. 


Kemudan juga mengecek ke sesama teman sekolahnya dan ternyata anak-anak sekolah yang ikut mencoblos statusnya masih pelajar aktif. 


Serasa tak puas disitu, Pihaknya juga sudah mengecek daftar pemilih tetap (DPT) yang ada di RT setempat dan dari situ diketahui ternyata anak-anak itu tidak termasuk dalam daftar pemilih tetap (DPT). 


“Jadi, Keterangan panitia bertolak belakang dengan keterangan kepala sekolah, RT hingga teman-teman siswa di sekolah” Amin berkisah.


Indikasi TSM dan Money Politik


Hasil investigasi media ini juga ditemui kesaksian yang menerima uang ratusan ribu untuk mencoblos atau mengamankan calon tertentu misalnya calon nomor urut satu dan uang itu tidak mereka gunakan karena sebagai barang bukti atas kecurangan.   


“Dirinya di TPS itu sebagai salah satu saksi tapi posisinya di TPS itu di dominasi oleh keluarga salah satu calon” ujar sumber. 


Peredaran uang disini sejak subuh hingga pagi menjelang  pencoblosan. Panitia hingga pengawas sebagai perangkat desa yang harusnya menjalani tugas dan fungsi secara transparan, jujur dan adil terkesan mendiamkan sejumlah kecurangan yang begitu terang benderang.


“Seolah-olah sudah ada setingan dari panitia yang memang tidak menjalankan model pemilihan secara transparan, jujur dan adil” ujar sumber yang mengaku  mengantongi sejumlah temuan.


Sumber bercerita misalnya di daerah dusun sungai landai dan Malako warga disana banyak yang tidak mendapat kartu pemilihan padahal mereka punya KK dan KTP dan ikut dalam pemilihan gubernur yang baru saja digelar pada 9 Desember 2020. 


“Mereka di hambat-hambat. Bahkan ada sampai yang keributan baru dibolehkan memilih tapi sebagian  justru suaranya tidak tersalur karena pulang itu salah satu contoh” ujarnya. 


BPD yang fungsinya selaku pengawas, Kata Sumber, Justru diduga nyoblos dimana-mana atau berkali-kali dan tidak mau mencelupkan tinta ke jarinya paska sudah mencoblos.


"Karena proses pemilihan diduga banyak kecurangan maka beberapa calon menyatakan menolak hasil pemilihan dan meminta agar dilakukan pemilihan ulang. Selain itu, Mereka juga meminta kepada bupati dan dprd supaya bertindak tegas atas masalah ini." Ujar Sumber.


Untuk diketahui, Calon kepala desa Lubuk Mandarsah tahun ini berjumlah lima orang yang secara berurutan yaitu Zulfan, Sapani, Martamis, Taufik dan Sagala.


Arpan, Selaku Ketua BPD Desa Lubuk Mandarsah ketika dikonfirmasi melalui telfon membenarkan bahwa kemarin Sabtu 18 Desember 2020 di desanya telah melaksanakan proses pemilihan kepala desa. Menurutnya, kotak suara malam tadi sudah di bawa ke kantor desa. 


“Iya, Sudah selesai. Ketua panitia pemilihan Pak Samuri dan saya sendiri sebagai pengawasnya." Ujar Arpan. Namun sayang penjelasan Arpan tidak lagi berlanjut karena sambungan telfon tiba-tiba putus dan ketika dihubungi kembali bernada tidak aktif. (wil) 


Komentar

Tampilkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terkini