-->

Menu Bawah

Iklan

Menuju Kawasan Khusus Suku Anak Dalam

21/02/21, 14:47 WIB Last Updated 2021-02-21T08:13:05Z
masukkan script iklan disini

Cara adat turun mandi, Suku Anak Dalam kelompok Temenggung Apung.

 Antisipasi Konflik Untuk Mensejahterakan Suku Anak Dalam


PORTALTEBO.id - Yayasan Orang Rimbo Kito (ORIK) tengah mendorong kawasan khusus Suku Anak Dalam (SAD) di Desa Muara Kilis Kecamatan Tenggah Ilir Kabupaten Tebo, Jambi. Kawasan khusus ini nantinya diperuntukan bagi kelompok Temenggung Apung. Ini dikatakan langsung oleh Ketua Yayasan ORIK, Ahmad Firdaus, Minggu (21/02/2021).


Dia berkata, tujuan kawasan khusus ini agar SAD memiliki wilayah hidup dan berkehidupan yang memiliki legalitas jelas,” jadi kawasan khusus ini nantinya hanya boleh ditempati oleh SAD kelompok Temenggung Apung. SAD di luar kelompok ini tidak dibolehkan,” kata Firdaus.


Dijelaskan Firdaus, luasan kawasan khusus yang dimaksud sekitar 115 hektar yang berada di lokasi (area) izin koperasi Sepenat Alam Lestari (SAL). Berdasarkan hasil musyawarah yang dilaksanakan pada Minggu lalu (31/01.2021) antara pihak koperasi, perangkat desa dan seluruh warga SAD kelompok Temenggung Apung, disepakaati jika lahan seluas 115 Ha tersebut akan dikelola secara mandiri oleh kelompok Temenggung Apung,” pada pengolahan lahan nantinya akan didampingi oleh kita dalam hal ini Yayasan ORIK,” ujar dia.


Kehidupan Suku Anak Dalam


Sebelumnya lanjut Firdaus berkata, yayasan yang dia pimpin telah bermusyawarah dengan SAD kelompok Temenggung Apung. Hasil musyawarah disepakat jika lahan seluas 115 Ha yang berada di izin koperasi SAL akan dikelola secara mandiri oleh mereka dan Yayasan ORIK sebagai pendamping.


Konsep pengolahan lahan kata dia, batas lahan seluas 115 Ha akan ditanami dengan tanaman hutan yang memiliki nilai ekonomi, begitu juga dengan batas lahan antar sesama SAD (fersil) juga ditanami dengan bibit pohon hutan yang juga memiliki nilai ekonomi.


Dalam area atau kawasan 115 Ha itu lanjut Firdaus menerangkan, seluas 5 Ha diperuntukan menjadi kawasan fasilitas umum (fasum) dan sekitar 10 Ha akan dihutankan kembali,” ini sudah kesepakatan kita dengan Temenggung Apung dan warganya. Kita juga sepakat jika lahan tersebut tidak boleh diperjual belikan,” katanya.


Firdaus bilang, konsep tersebut sangat sesuai dengan tujuan dari pendampingan dan pemberdayaan yang dilakukan oleh Yayasan yang dia pimpin yakni, Restorasi Suku Anak Dalam Dan Wilayah Hidup Kelompok Temenggung Apung di Desa Muara Kilis dengan skema Perhutanan Sosial.


Pada pelaksanaan program restorasi ini, agenda perencanaan kegiatan disusun berdasarkan aspirasi dari Suku Anak Dalam Kelompok Temenggung Apung melalui musyawarah dan disepakati bersama,” Pada pelaksanaan kegiatan nantinya juga langsung melibatkan mereka dengan tujuan untuk meningkatkan efektifitas, akuntabilitas dan transparansi dalam merealisasikan program, dengan harapan kebutuhan mereka terhadap sebuah proses pada program ini akan lebih terakomodir,” ujarnya.


“Hal  tersebut  didasarkan  pada  kondisi objektif bahwa yang  paling tahu dan memahami apa dan bagaimana  kebutuhan  terhadap program tersebut adalah mereka sendiri,” kata dia.


Untuk mewujudkan kawasan program ini, Firdaus berharap dukungan dan sufort dari semua pihak khususnya Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Tebo, pemerintah desa Muara Kilis dan koperasi SAL,” mudah-mudahan rencana membentuk kawasan khusus SAD ini menjadi acuan pendampingan dan pemberdayaan terhadap SAD kedepan,” tutupnya berharap. (***)

 


Gambaran Umum SAD Kelompok Temenggun Apung


Kelompok Temenggung Apung merupakan salah satu kelompok Suku Anak Dalam di Provinsi Jambi. Mereka saat ini berada di Desa Muara Kilis Kecamatan Tenggah Ilir Kabupaten Tebo. Kelompok ini berjumlah 57 Kepala Keluarga (KK) dengan jiwa sebanyak 367 orang. Sejak dahulu mereka  telah menetap dan bermukim di kawasan hutan desa Muara Kilis. Mereka sudah lima kali mengalami pergantian ketemenggunangan (pemimpin). Temenggung (pemimpin) pertama yakni Temenggung Pemenang Suaro, kemudian digantikan oleh Temenggung Janggut Putih (temenggung kedua), selanjutnya Temenggung Lurah (Temenggung ketiga), Temenggung Jintan (temenggung keempat) dan sekarang dipimpin oleh Temenggung Apung (Temenggung kelima).


Ketua Yayasan Orang Rimbo Kito (ORIK), Ahmad Firdaus mengatakan, sesuai adat istiadat dan tradisi kelompok Suku Anak Dalam ini telah mempersiapakan colan Temenggung yang bakal mengantikan jabatan Temenggung Apung. Calon temenggung ini mereka sebut Temenggung Mudo yang bernama Tupang Besak.


SAD Muara KilisTemenggung Apung bersama ketua ORIK


Meski seharusnya jabatan Temenggun Apung sudah berakhir dan digantikan oleh Temenggung Mudo (Tupang Besak). Karena marwah ketemenggungan Apung masih kental dirasakan oleh kelompok mereka, akhirnya kelompok Suku Anak Dalam ini dipimpin oleh dua Temenggung yakni Temenggung Apung dan Temenggung Tupang Besak. Meski ada dua ketemenggungan di sana, mereka tetap hidup rukun dan teratur seseuai adat istiadat dan tradisi mereka.


Sejak dahulu kata Firdaus, meramu dan berburu merupakan cara mereka hidup di hutan. Hingga sekarang kegiatan ini masih terus mereka lakukan. Karena luasan hutan dan wikayah jelajah mereka sudah sangat jauh berkurang, akhirnya mereka terpaksa bertahan hidup dengan cara mencari hasil hutan di area perkebunan perusahaan maupun perkebunan warga sekitar.


Pada tahun 2007/2008, Kementerian Sosial membangun 50 unit rumah Komunitas Adat Terpencil (KAT) di Sungai Inuman desa Muara Kilis Kecamatan Tengah Ilir Kabupaten Tebo - Jambi. Rumah yang dibangun semi permanen itu diperuntukan khusus untuk Suku Anak Dalam kelompok Temenggung Apung. Sayangnya, pada program ini mereka hanya mendapat bantuan ruamah saja, tidak disertai dengan penyediaan lahan untuk penghidupan (lahan untuk bertani dan berkebun). Akibatnya, rumah yang dibangun oleh pemerintah tidak dimanfaatkan oleh kolompok ini dengan baik dan terkesn sia-sia.


Sekitar tahun 2011, kelompok ini pindah ke Sungai Jelapang (masih dalam wilayah adminitrasi Desa Muara Kilis). Mereka mulai belajar hidup menetap. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, mereka terpaksa bertani dan berkebun seadanya. Sayangnya, kondisi ini juga tidak bertahan lama akibat seringnya terjadi konflik dan jual beli lahan. Akhirnya mereka memutuskan untuk hijrah (pindah) kembali.


Karena hutan sudah semangkin sempit, mereka terpaksa mendiami areal perkebunan PT WKS. Dengan semua keterbatasan, mereka kembali menggarap lahan yang baru selesai dipenen oleh perusahahan dengan ditanami berbagai macam tanaman.


Tahun 2015, PT WKS membebaskan lahan tersebut seluas 201 Ha untuk pemukiman dan kehidupan untujk dua kelompok SAD yakni kelompok Temenggung Apung dan kelompok Temenggung Lidah Pembangun. Sayangnya, karena tidak ada aturan dan pendampingan serta pemberdayaan yang jelas terhadap pelepasan lahan tersebut, lokasi seluas 201 Ha yang mereka tempati saat ini lebih dari 2/3 (75 persen) telah dijual kepada masyarakat luar, dan hanya beberapa kepala keluarga (KK) saja yang tinggal dan hidup menetap di sana.


Pada tahun 2017 lalu, Pemerintah Kabupaaten (Pemkab) Tebo membangun Sekolah Alam yang sekaligus sebagai balai pertemuan di lokasi tersebut. Kemudian di tahun 2019 dibangun Gedung Pusat Informasi Orang Rimbo dari CSR Bank Nasional Indonesi (BNI 46).


Selanjutnya, pada Juli 2019 lalu, 8 orang anggota keluarga kelompok ini ditangkap oleh aparat kepolisian karena terlibat pada penyerangan anggota patroli kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta perusakan kantor dan mess di Distrik VIII PT WKS yang dilakukan oleh kelompok tani Serikat Mandiri Batanghari (SMB) yang di ketuai oleh Muslim.


Dari fakta sidang, anggota keluarga kelompok ini dimanfaatkan oleh kelompok tani SMB sebagai tameng untuk penguasaan lahan PT WKS yang jumlahnya ribuan hektar. Kelompok ini hanya dijanjikan oleh SMB lahan seluas 3,5 Ha per kepala keluarga.


Ketua ORIK, Ahmad Firdaus mendampingi Temenggung Apung saat mengunjungi anggota kelompoknya tenggaj menjalani proses hukum di Polda Jambi. 


Desember 2019, anggota keluarga kelompok ini telah dibebaskan karena telah menjalani hukuman. Namun insiden penangkapan tersebut masih membekas dan membuat pihak keluarga mengalami trauma.


“agar mereka tidak lagi dimanfaatkan oleh para oknum untuk kepentingan tertentu, yam au tidak mau ruang hidup mereka harus dipisahkan. Ini juga berjuan untuk mensejahterakan mereka,” kata Firdaus.

 


Keinginan SAD 


Semangkin sempitnya ruang hidup dan kehidupan (hutan) Suku Anak Dalam khsususnya kelompok Temenggung Apung membawa konsekuensi kerugian yang sangat besar, karena hingga saat ini masih adanya aktivitas pemanfaatan keberadaan mereka oleh para oknum tertentu untuk penguasaan dan perambahan lahan yang yang kemudian dialihfungsikan menjadi lahan perkebunan.


Temenggung Apung


Sebagai kelompok masyarakat adat yang berada di wilayah terpencil, akses informasi dan komunikasi dengan kelompok ini sangat kurang, mereka menjalankan hidup seadanya. Rasa kawatir dan was-was selalu menghantui kelompok ini karena luasan hutan tempat sumber hidup mereka semakin terbatas. Saat ini mereka membutuhkan kawasan khusus untuk bisa hidup dan berkehidupan. Lahan tersebut nantinya akan diperuntukan untuk pemukiman, perkebunan, fasilitas umum dan area yang akan dijadikan hutan kembali (dihutankan kembali). Nantinya, kawasan khusus tersebut diberi pembatas yang jelas dengan cara ditanami tanaman yang benilai ekonomis dan tanaman endemik yang juga bernilai ekonomis.


“mereka sudah sangat sadar jika luasan hutan sudah semangkin sempit dan ketersediaan makanan untuk mereka semangkin sedikit. Jadi mereka menginginkan wilayah khusus dengan pengolahan dan aturan khusus yang nantinya sesuai dengan adat istiadat dan tradisi mereka. Khawasan khusus ini juga yang nantnya menjadi kawasan hidup dan penghidupan mereka hingga anak cucu nanti,” kata Ahmad Firdaus, Ketua Yayasan Orang Rimbo Kito (ORIK).


Firdaus menjelaskan, dari sisi kepengurusan dan anggotanya (Ketemenggungan) kelompok ini juga membutuhkan kegiatan-kegiatan berupa penguatan kapasitas. Hal tersebut sangat diperlukan agar mereka dapat mengelola kegiatan kerja sama dengan pihak lain dengan baik. Pengurus kelompok setidaknya haruslah mempunyai kapasitas yang cukup untuk mendampingi rekan-rekannya yang lain, menemukenali permasalahan bersama dan memfasilitasi perencanaan-perencanaan bersama yang sesuai dengan adat istiadat mereka (kearifan local mereka).


“Kelompok Suku Anak Dalam ini juga membutuhkan diskusi-diskusi bersama yang membicarakan banyak hal. Yang terpenting dari berbagai kegiatan adalah bagaimana bisa membangun kekritisan angota terhadap permasalahan-permasalahan yang ada, menemukenali permasalahan bersama dan menyelesaikan masalah tersebut secara bersama pula, dan mejaga serta mengelola kawasan yang telah diperuntukan sesuai aturan yang telah disepakati bersama, diantaranya lahan tersebut tidak boleh dijual belikan,” kata Firdaus. (***)

 


Potensi Suku Anak Dalam Kelompok Temenggung Apung


Meski mata pencarian Suku Anak Dalam kelompok Temenggung Apung masih bergantung pada hasil hutan, namun mereka sudah mulai hidup menentap. Mereka hidup bertani dan berkebun seadanya. Mereka menanam ubi kayu, pisang, kelapa sawit dan getah karet di lokasi yang saat ini mereka tempati yakni, Simpang Stop Dusun Benteng Makmur Desa Muara Kilis Kecamatan Tenggah Ilir Kabupaten Tebo – Jambi.


Belajar membaca pada program retas buta aksara.


Wilayah mereka mencari hasil hutan berupa getah damar, bambu, berburu dan meramu di kebun-kebun milik warga sekitar dan wilayah izin perushaan. Disaat musim buah-buahan, mereka ke Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) untuk mencari buah-buahan seperti kabau, sempayang (semangko), jengkol dan lainnya. Sementara, lahan tempat mereka tinggal dan berkebun saat ini kondisinya tergolong lahan kritis.


“kondisi ini sudaah sangat mereka sadari. Mereka khawatir seperti apa nantinya kehidupan anak dan cucu mereka kalau lahan (hutan) sudah tidak ada lagi,” katanya.


Meski kelompok Suku Anak Dalam ini telah mengenal kehidupan terang (kehidupan modern) dan hidup berbaur dengan masyarakat setempat, namun mereka masih tetap menjalankan hukum adat. Hal ini terbukti dengan beberapa insiden yang terjadi di kelompok mereka bisa diselesaikan secara adat,” mereka juga telah mengenal hukum positif. Artinya mereka sudah mau menerima perubahan,” ujar Firdaus dan berkata masih banyak lagi potensi yang dimiliki oleh Suku Anak Dalam kelompong Temenggung Apung. (***)


Bentuk komitmen Suku Anak Dalam menjaga hutan dalam program "Waris Pohon"


Komentar

Tampilkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terkini