-->

Menu Bawah

Iklan

Ancaman Tambang Batubara, MHA SAD Muara Kilis Bakal Kehilangan Wilayah Hidup

Portal Tebo
18/03/21, 18:33 WIB Last Updated 2021-03-18T11:33:16Z
masukkan script iklan disini


PORTALTEBO.id - Perusahaan tambang batubara bakal beroperasi di Desa Muara Kilis, Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo, Jambi. Hal ini menjadi acaman terhadap Masyarakat Hukum Adat (MHA) Suku Anak Dalam (SAD) dan wilayah hidup mereka di desa tersebut. Ini dikatakan pendamping MHA SAD di desa itu, Ahmad Firdaus, Kamis (18/03/2021).


"Jika rencana kegiatan tambang tetap dilaksanakan bakal menghilangkan kawasan hidup MHA SAD di desa itu. Terus, nanti mereka bakal hidup dimana? "kata Ahmad Firdaus. 


Menurut informasi yang didapat kata Firdaus, kawasan yang selama ini menjadi ruang hidup MHA SAD sejak turun temurun masuk dalam area izin tambang. 


Kata dia, ada dua kelompok MHA SAD di lokasi atau area yang bakal dijadikan kawasan tambang yakni, kelompok Temenggung Apung dan kelompok Temenggung Tupang Besak. 


"Jika perusahaan tambang batubara itu jadi beroperasi, saya yakin bakal banyak menimbulkan konflik," kata Ahmad Firdaus yang juga Ketua Yayasan Orang Rimbo Kito (ORIK). 


Diakui dia jika kawasan MHA SAD dua kelompok tersebut belum masuk data Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA) karena belum dilakukan pemetaan partisipatif. Namun secara sejarah mereka sudah ratusan tahun berada di wilayah itu, dan hal ini diakui oleh masyarakat desa Muara Kilis dan masyarakat desa sekitar. Ini juga diperkuat dengan Surat Keputusan Kepala Desa Muara Kilis Nomor : 05 Tahun 2021 tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Suku Anak Dalam Kelompok Temenggung Apung. 


Tidak hanya SAD, lanjut Firdaus menjelaskan, di area izin tambang tersebut sudah banyak pemukiman penduduk. Bahkan sudah ada 3 sekolah dasar dan satu sekolah alam di sana. "ada izin koperasi dan perhutanan sosial (HKM) juga di sana. Artinya ada tupang tindih izin di lokasi itu," kata Firdaus. 


Untuk itu, Firdaus minta kepada pihak terkait agar meninjau ulang izin perusahaan tambang tersebut. Jangan sampai gara-gara mempertahankan investasi justru menciptakan konflik berkepanjangan di Tebo, khususnya di desa Muara Kilis. 


Kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tebo, Firdaus minta agar tidak sembarangan mengeluarkan rekomendasi dokumem kelayakan lingkungan hidup di Tebo. "Tolong LH benar-benar mengkaji dampak lingkungan di Tebo. Bukan cuma perusahaan tambang batubara bara saja, tapi seluruh usaha yang ada di Tebo," ketus dia. 


Diberitakan sebelumnya, Kepala Desa Muara Kilis, Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo, Jambi, Sopaturrahman membenarkan ada perusahaan bakal melaksanakan kegiatan tambang batubara di wilayah desanya. Dia mengaku menolak rencana kegiatan tambang tersebut. Penolakan itu disampaikan saat dia menghadiri dan mengikuti sidang pembahasan dokumen lingkungan di tingkat kabupaten hingga provinsi. 


"Waktu pembahasan dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan – Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL-UPL) di Kabupaten Tebo, saya tolak. Pembahasan dokumen Analisa Dampak Lingkungan (Amdal) di Provinsi Jambi juga saya tolak," kata Kades Muara Kilis merasa heran atas informasi sejumlah orang yang mengaku dari pihak perusahaan batubara melakukan survey lokasi untuk pengeboran di wilayah desanya. 


Diakui Kades, pada sidang Amdal bersama Komisi Penilai Amdal (KPA) di Provinsi Jambi, kelayakan lingkungan dari rencana usaha atau kegiatan tambang batubara tersebut penuh dengan catatan diantaranya, pengesahan dokumen Amdal harus dari bawah atau tingkat desa. 


"Saat sidang saya sampaikan soal Amdal mesti sampai ke Ilir jangan ulunya saja. Kapan perlu sampai ke Kades, tapi kayaknya dak ada. Buktinya sampai sekarang tidak ada komunikasi dari pihak perusahaan, sekarang mereka sudah turun survey lokasi," kata Kades. 


Diketahui, sudah beberapa hari ini ketenangan Suku Anak Dalam di Desa Muara Kilis, Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi, terusik gara-gara rencana kegiatan pertambangan batubara. Pasalnya, ada sejumlah orang yang mengaku dari pihak perusahaan batubara melakukan survey lokasi untuk pengeboran di kawasan permukiman mereka.


Informasi yang dirangkum media ini, perusahaan tersebut adalah PT Bangun Energi Perkasa yang akan melaksanakan kegiatan tambang di lahan seluas 3.587 Hektar. Lokasi tambang di Desa Pelayang Kecamatan Tebo Tengah dan Desa Muara Kilis Kacamatan Tengah Ilir. 


Saat survey, orang yang mengaku dari pihak perusahaan itu didampingi Kadus Benteng Makmur. Orang tersebut, melakukan survey lokasi sekaligus menentukan titik pengeboran. 


"Kata orang itu, dalam waktu dekat ini mereka bakal melakukan pengeboran untuk mengetahui kandungan batubara di kawasan pemukiman kami," kata Salah seorang warga SAD, Malenggang saat dijumpai di rumahnya, Rabu (17/03/2021).


Malenggang mengaku kesal, sebab selama ini ia dan warga SAD yang lain tidak pernah diberi tahu jika ada perusahaan batubara yang bakal beroperasi di kawasan permukiman mereka. 


Dia juga mengaku selama ini tidak ada sosialisasi terkait aktivitas tambang yang bakal dilaksanakan tersebut," terkejut saja, kok tiba-tiba pemukiman kami ini bisa muncul izin tambang batubara. Memang kapan izinya diterbitkan?" katanya. 


Kabar yang beredar lanjut Malenggang, nantinya pihak perusahaan akan mengganti rugi setiap lahan atau kawasan yang digunakan untuk tambang. Jika hal itu terjadi, menurut dia, artinya kawasan pemukiman SAD kelompok dia bakal digusur.


"Informasi yang kami dapat menyebutkan jika kami menumpang hidup di sini. Kan aneh, padahal dari nenek moyang dahulu kami sudah di sini. Kok malah dibilang numpang. Begitu juga dengan ganti rugi, katanya kalau tidak penuh keatas, ya penuh kebawah," ujar dia. 


Pemimpin SAD Desa Muara Kilis, Temenggung Apung menegaskan, tidak akan mengizinkan pemukiman mereka menjadi kawasan tambang batubara. "Kalo kami tu tahan betetakan leher (potong leher) kalo tempat kami mau dijadikan tambang batubara. Walaupun nanti diganti rugi 400 juta per hektar, tetap kami tolak," tegas Temenggung Apung. (red) 


Komentar

Tampilkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terkini