-->

Menu Bawah

Iklan

Komisi Penilai Amdal ke Lokasi Rencana Tembang Batubara di desa Muara Kilis

Portal Tebo
20/03/21, 21:36 WIB Last Updated 2021-03-20T14:37:46Z
masukkan script iklan disini


PORTALTEBO.id - Kegelisahan dan ketakutan Masyarakat Hukum Adat Suku Anak Dalam (MHA SAD) kelompok Temenggung Apung di Desa Muara Kilis, Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi, atas rencana kegiatan pertambangan batubara di wilayah mereka, mengundang perhatian aktivis lingkungan dari lembaga Pinang Sebatang (Pinse) dan Lembaga Pemantau Penyelamat Lingkungan Hidup (LP2LH) Kabupaten Tebo.


Sabtu (20/03/2021), Ketua Pinse, Husni Tambrin bersama Yayasan Orang Rimbo Kito (ORIK) dan pengurus Lembaga Pemantau Penyelamat Lingkungan Hidup (LP2LH) Kabupaten Tebo, turun langsung ke lokasi rencana kegiatan tambang tersebut. Rombongan ini disambut langsung oleh Temenggung Apung dan sejumlah pengurus adat SAD. 


Saat berbincang, Temenggung Apung dan warganya dengan tegas menolak rencana kegiatan tambang batubara di wilayah mereka. Dia minta kepada pendamping dalam hal ini Yayasan ORIK untuk menyampaikan penolakan tersebut kepada intansi terkait. 


Temenggung mengaku jika saat ini warganya merasa resah karena aktivitas sejumlah orang yang mengaku pekerja tambang melakukan pengeboran di kawasan permukiman mereka. 


Usai berbincang, Temenggung Apung mengajak rombongan mengecek langsung lokasi bbekas pengeboran yang dilakukan oleh pekerja tambang. 


"Iya, tadi kita bersama lembaga Pinse dan LP2LH ke pemukiman MHA SAD kelompok Temenggung Apung," kata Ketua Yayasan ORIK, Ahmad Firdaus. 


Dia menjelaskan, Ketua Pinse, Husni Tambrin atau yang akrab disapa Bang Ook adalah aktivis lingkungan. Dia juga adalah anggota Komisi Penilai Amdal (KPA) Provinsi Jambi yang ikut menyidangkan dokumen lingkungan atau Analisa Dampak Lingkungan (Amdal) perusahaan tambang batubara yang bakal melakukan kegiatan tambang di Desa Muara Kilis.


"Intinya, MHA SAD kelompok Temenggung Apung menolak rencana kegiatan tambang batubara di wilayah mereka," kata Firdaus. 


Ini dibenarkan Serel, Ketua Adat MHA SAD Kelompok Temenggung Apung," kalau tempat kami dijadikan tambang batubara, terus nanti kami tinggal dimana? Lihat saja sendiri, di sini sudah ramai, sudah kebun masyarakat semua," kata Serel.


Serel mengaku jika saat dia bersama MHA SAD lainnya merasa was-was atas rencana kegiatan tambang tersebut. Apalagi sudah ada pekerja tambang yang melakukan pengeboran.


Dia juga mengaku sudah berupaya melarang pekerja tambang tersebut melakukan pengeboran. "Sudah kita larang jangan di bor, tapi alasannya mereka hanya pekerja. Kalau mau komplain silahkan ke atasan," kata Serel, Ketua Adat MHA SAD Kelompok Temenggung Apung saat di lokasi bekas pengeboran. 


Untuk itu, dia minta kepada pihak perusahaan tambang agar menghentikan kegiatan pengeboran, dan membatalkan rencana kegiatan tambang batubara di wilayah mereka. 


"Apapun alasannya, kami siap mempertahankan tanah kelahiran kami," kata dia.

Informasi yang dirangkum media ini, perusahaan tersebut adalah PT Bangun Energi Perkasa yang akan melaksanakan kegiatan tambang di lahan seluas 3.587 Hektar. Lokasi tambang di Desa Pelayang Kecamatan Tebo Tengah dan Desa Muara Kilis Kacamatan Tengah Ilir. (red) 

Komentar

Tampilkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terkini