-->

Menu Bawah

Iklan

Hewan Liar Terus Bermatian, MHA SAD Semakin Ketakutan

Portal Tebo
17/06/21, 11:08 WIB Last Updated 2021-06-17T04:08:37Z
masukkan script iklan disini

Bangkai kepada babi yang ditemukan tidak jauh dari pemukiman MHA SAD Kelompok Temenggung Apung.

PORTALTEBO.ID - Sudah beberapa minggu ini ratusan hewan liar secara misterius ditemukan tergeletak mati tidak jauh dari sumber air. Hingga sekarang insiden aneh ini masih berlangsung. 


Hal ini tentu saja membuat warga yang tinggal dipinggiran hutan merasa ketakutan, termasuk Masyarakat Hukum Adat Suku Anak Dalam (MHA SAD) kelompok Temenggung Apung di Desa Muara Kilis, Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo.


"Jujur sekarang ini kami merasa sangat ketakutan sekali karena sudah banyak ditemukan bangkai hewan disekitar tempat kami," kata Melenggang anak Temenggung Apung, beberapa hari yang lalu.


Menurut Melenggang, kejadian ini sudah sangat meresahkan MHA SAD kelompok dia. Sebab sudah ada beberapa warga yang diduga terimbas dari bangkai hewan tersebut.


"Sudah ada beberapa orang warga yang tiba-tiba mengalami mual dan pusing-pusing. Ada juga yang sampai muntah darah. Untungnya masih bisa diselamatkan," ujar dia.


Saat ini lanjut Melenggang, warga MHA SAD tidak ada yang berani ke sungai. Mereka takut tertular penyakit atau racun yang menyerang hewa-hewan liar tersebut. "Corona saja tidak seperti ini ketakutan kami. Kalo soal hewan banyak yang mati ini, jujur kami sangat ketakutan sekali," kata dia lagi.


Untuk itu, Melenggang minta kepada instansi dan pihak terkait agar segera mencari solusi dan melakukan penangganan atas kejadian ini," Setahu saya sampai sekarang belum ada petugas yang turun dan melakukan pengecekan mengapa sampai banyak ditemukan bangkai hewan liar tidak jauh dari sumber air. Artinya memang belum ada tindakan dari pemerintah untuk mengatasi persoalan ini," ungkapnya.


"Sampai sekarang masih banyak hewan yang mati. Setiap hari ada saja ditemukan bangkai yang baru," pungkasnya.


Diberitakan sebelumnya, Masyarakat Hukum Adat Suku Anak Dalam (MHA SAD) kelompok Temenggung Apung di Desa Muara Kilis, Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo, merasa was-was karena banyak menemukan hewan liar tergeletak mati. Ini dikatakan anak Temenggung Apung.


"Yang paling banyak ditemukan bangkai babi, ular dan biawak. Jumlahnya ratusan lebih. Rata-rata lokasinya tidak jauh dari air atau di dipinggir-pinggir sungai," ungkap Malenggang dan mengaku di kebun dia juga ditemukan bangkai babi.


"Kalau sekarang ini, jangankan mau ketemu babi. Ketemu jejak babi saja boleh dikatakan tidak ada lagi, " katanya.


Tidak itu saja, Malenggang, mengaku juga menemukan sejumlah beruang, kijang dan rusa tergeletak mati. "Anehnya. Tidak satupun rajo besak (gajah) dan rajo belang (harimau) yang ditemukan mati," ujarnya. 


Hal yang sama juga dikatakan Ketua Adat MHA SAD Kelompok Temenggung Apung, Sril. Kejadian aneh ini ujar dia, baru pertama kali terjadi. "Anehnya lagi. Dimana ditemukan hewan yang mati, jika kita menangkap ikan di sana dan kita makan, kita langsung (spontan) merasa pusing. Tidak lama langsung jatuh pinsan atau tidak sadarkan diri, " ungkap dia. 


Yang dikhawatirkan katanya, banyak MHA SAD kelompok dia (MHA kelompok Temenggung Apung) yang masih mengandalkan hidup dari hasil hutan. Terkadang mereka berhari-hari mencari hasil hutan di dalam hutan. 


Saat berada di dalam hutan katanya, salah satu sumber makanan yang gampang atau mudah didapat adalah ikan. "Nah kalau sempat termakan ikan dan langsung pinsan, siapa yang menolongnya?" kata dia. 


Sril menduga, kematian hewan-hewan ini akibat rancun. Pasalnya, hampir rata-rata wilayah yang menjadi jelajahan dia ditemukan bangkai hewan. Bangkai hewan yang paling banyak ditemukan di Sungai Landai, Sungai Pedeman, Sungai Manggatal, Sungai Sekalo dan sungai -sungai lainnya. "Pernah saya temukan lebih dari 50 ekor bangkai babi dipinggiran air. Kok bisa matinya serentak seperti habis diracuni saja, " katanya. 


Yang dikhawatirkan lanjut Sril lagi, racun yang menyerang hewan-hewan tersebut juga menyerang atau menular ke manusia. Atau kata dia, hilangnya sumber makanan untuk rajo belang (harimau)," Kalau makanan untuk rajo belang sudah habis, rajo belangnya mau cari makan dimana lagi. Ya, ujung-ujungnya bakal masuk kampung untuk mencari makan," ujarnya.


Untuk itu, Sril dan MHA SAD Kelompok Temenggung Apung minta kepada intansi terkait untuk mencari solusi dan mencari penyebab mengapa banyak ditemukan hewan liar bergelimpangan mati. Jangan sampai kejadian aneh ini berdampak kepada mereka yang berada di pinggiran hutan. "Kami sudah sangat kawatir dengan kejadian ini, " katanya. (red)

Komentar

Tampilkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terkini