-->

Menu Bawah

Iklan

Kematian Hewan Secara Misterius Juga Terjadi di Sekitar TNBD

Portal Tebo
07/07/21, 22:05 WIB Last Updated 2021-07-07T15:05:21Z
masukkan script iklan disini


PORTALTEBO.id
- Peristiwa ratusan hewan liar mati mendadak ternyata tidak hanya terjadi di sekitar Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT), namun peristiwa misterius ini juga terjadi disekitar kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD). Ini dikatakan langsung oleh Bambang, wakil pemimpin atau Temenggung Masyarakat Hukum Adat Suku Anak Dalam (MHA SAD) Desa, Tanah Garo, Kecamatan Muara Tabir, Kabupaten Tebo, Jambi.


"Heran, di tempat kami banyak nian ditemukan bangkai babi. Sepertinya mati mendadak," kata Wakil Temenggung, Bambang, Selasa (06/07/2021) kemarin.


Bambang mengaku tidak tahu apa penyebab kematian hewan-hewan tersebut. "Mati karena apa, kami tidak ada tahu. Yang jelas sekarang kami sangat sulit mendapatkan babi," ujar dia.


Hal yang sama juga dikatakan Nyerah. Menti MHA SAD Desa Tanah Garo ini mengungkapkan, selain babi masih banyak ditemukan hewan lainnya yang mati secara misterius. "Bukan cuma babi, burung biawak, ular, monyet dan lainnya banyak juga yang mati. Kalo dihitung, jumlahnya ratusan lebih," ucap Nyerah.


Hingga sekarang kata dia, peristiwa misterius ini masih berlangsung. Hal ini membuat dia dan warga MHA SAD Desa Tanah Garo merasa was-was dan berharap ada penanganan serius dan intansi terkait.


Diberitakan sebelumnya, Masyarakat Hukum Adat Suku Anak Dalam (MHA SAD) kelompok Temenggung Apung di Desa Muara Kilis, Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo, merasa was-was karena banyak menemukan hewan liar tergeletak mati.


Hewan liar yang paling banyak ditemukan mati diantaranya babi, ular dan biawak. Diperkirakan jumlahnya ratusan ekor lebih. Rata-rata lokasinya tidak jauh dari sumber air atau di dipinggir-pinggir sungai disekitar kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT).


"Kalau sekarang ini, jangankan mau ketemu babi. Ketemu jejak babi saja boleh dikatakan tidak ada lagi, " kata Temenggung Apung beberapa minggu yang lalu.


Tidak itu saja, dia juga mengaku menemukan sejumlah beruang, kijang dan rusa tergeletak mati. "Anehnya. Tidak satupun rajo besak (gajah) dan rajo belang (harimau) yang ditemukan mati," ujarnya. 


Hal yang sama juga dikatakan Ketua Adat MHA SAD Kelompok Temenggung Apung, Sril. Kejadian aneh ini ujar dia, baru pertama kali terjadi. "Anehnya lagi. Dimana ditemukan hewan yang mati, jika kita menangkap ikan di sana dan kita makan, kita langsung (spontan) merasa pusing. Tidak lama langsung jatuh pinsan atau tidak sadarkan diri, " ungkap dia. 


Yang dikhawatirkan katanya, banyak MHA SAD kelompok dia (MHA kelompok Temenggung Apung) yang masih mengandalkan hidup dari hasil hutan. Terkadang mereka berhari-hari mencari hasil hutan di dalam hutan. 


Saat berada di dalam hutan katanya, salah satu sumber makanan yang gampang atau mudah didapat adalah ikan. "Nah kalau sempat termakan ikan dan langsung pinsan, siapa yang menolongnya?" kata dia. 


Sril menduga, kematian hewan-hewan ini akibat rancun. Pasalnya, hampir rata-rata wilayah yang menjadi jelajahan dia ditemukan bangkai hewan. Bangkai hewan yang paling banyak ditemukan di Sungai Landai, Sungai Pedeman, Sungai Manggatal, Sungai Sekalo dan sungai -sungai lainnya. "Pernah saya temukan lebih dari 50 ekor bangkai babi dipinggiran air. Kok bisa matinya serentak seperti habis diracuni saja, " katanya. 


Yang dikhawatirkan lanjut Sril lagi, racun yang menyerang hewan-hewan tersebut juga menyerang atau menular ke manusia. Atau kata dia, hilangnya sumber makanan untuk rajo belang (harimau)," Kalau makanan untuk rajo belang sudah habis, rajo belangnya mau cari makan dimana lagi. Ya, ujung-ujungnya bakal masuk kampung untuk mencari makan," ujarnya. (red)


Komentar

Tampilkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terkini