-->

Menu Bawah

Iklan

Dewan Sorot Perubahan Air Sungai Menjadi Hitam, Diduga Tercemar Limbah PT RAU

Portal Tebo
13/08/21, 15:24 WIB Last Updated 2021-08-13T08:24:36Z
masukkan script iklan disini


PORTALTEBO.id - Anggota DPRD Kabupaten Tebo Dapil 1 Fraksi PAN, Yuzep Herman akhirnya angkat bicara terkait dugaan tercemarnya Sungai Batang Sumay yang berlokasi di Desa Tuo Sumay, Kecamatan Sumay Kabupaten Tebo pada Rabu 11 Agustus 2021 lalu.


Saat dikonfirmasi media ini melalui pesan WhatsApp pada Jum'at, (13/08/21), dirinya mengaku sudah mendapatkan informasi masalah tersebut dari warga masyarakat Desa Tuo Sumay dan sudah ia tanggapi.


"Sudah, tadi saya suruh masyarakat buat surat ke DPR biar sayo turun lansung  ke tempat yang terkena dampak limbah tersebut," kata Yuzep.


Saat ditanya jika memang tercemarnya Sungai Batang Sumay diduga akibat dari aktifitas Pabrik PT. Regunas Agri Utama (PT.RAU)  dan terbukti, ia menjawab akan mengambil langkah tegas terkait persoalan ini.


"Nanti kita tinjau dulu, apa sebab dan penyebabnya. Kalau masalah langkah banyak yang kita buat sesuai dengan kesalahan dan tentang aturan mana yang kita buat untuk memberikan sanksi atau teguran nantinya. Yang jelas kita turun lah besok bersama-sama, supaya jelas masalahnya," cetus Yuzep.


Sebelumnya, Sebuah video berdurasi 29 detik diunggah oleh akun Gerry Firmansyah ke media sosial Facebook pada Rabu, 11 Agustus 2021. Video tersebut mendapat beragam komentar dari warganet.


Pasalnya, video tersebut  menayangkan kondisi Sungai Batang Sumay yang berada di Desa Tuo Sumay, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, Jambi, yang terlihat mengalami perubahan warna menjadi hitam. 


Perubahan warna itu diduga akibat tercemar dari salah satu aktivitas perusahaan perkebunan kelapa sawit yang berada di daerah tersebut.


Pada kesempatan yang sama, Gery Firmansyah, saat di konfirmasi membenarkan telah mengunggah video tersebut..


"Hari Rabu kejadiannya dan hebohnya jam 3 sore. Ini sudah dilaporkan ke Kades Tuo Sumay. Begitu kades melihat sungai tercemar lansung ke pabrik, namun setelah itu tidak ada  informasi lagi dari kades," terang Gerry.


Terpisah, Ketua Lembaga Pemantau Penyelamat Lingkungan Hidup ( LP2LH ), Hary Irawan kepada media ini sangat menyayangkan kejadian itu.


Dia mengaku pada tahun 2019 yang lalu pernah menemukan kasus yang sama di desa tersebut, tepatnya di dusun Tanjung Dani. Bahkan dari hasil investigasi yang dilakukan, pihaknya menemukan bukti bahkan ada korban yang terdampak akibat tercemarnya air sungai itu. "Waktu itu, hasil investigasi kita laporkan kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tebo. Kita menduga, tercemarnya air sungai tersebut diduga akibat aktivitas PT.Rigunas Agri Utama,” kata dia.


Kembali ditegaskan Hary, jangan sampai kejadian serupa terulang kembali. Apalagi yang melakukan itu adalah pihak atau perusahaan yang sama.


"Saya ingat kepada PT RAU jangan main-main dengan kondisi ini, tidak ada alasan apapun bagi perusak lingkungan," tegasnya.


"Ketika Sungai menjadi tercemar dan menggangu kelangsungan ekosistem yang berada di dalamnya, ditambah lagi ada masyarakat yang terdampak akibat ulah dari aktifitas&aktifitas kegiatan usaha, saya akan menggunakan hak organisasi saya untuk melakukan tindakan sesuai dengan Undang-undang nomor 32 Tahun 2009  tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 92," tutupnya. (red)

Komentar

Tampilkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terkini