-->

Menu Bawah

Iklan

Gara-gara Sanitizer, MHA SAD Ini Menolak Perekaman Data Kependudukan

Portal Tebo
08/09/21, 23:22 WIB Last Updated 2021-09-08T16:22:25Z
masukkan script iklan disini


PORTALTEBO.id
- Petugas Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Tebo, melakukan perekaman data kependudukan Masyarakat Hukum Adat Suku Anak Dalam (MHA SAD) Kelompok Temenggung Ngadap, Desa Tanah Garo, Kecamatan Muara Tabir, Kabupaten Tebo, Jambi.


Perekaman data ini dilakukan di aula kantor Desa Sungai Jernih Kecamatan tersebut pada Rabu (08/09/2021).


Ada kejadian yang menarik perhatian disaat akhir proses perekaman, yakni salah seorang warga MHA SAD yang sedari pagi rela antri menunggu giliran perekaman, justru menolak saat hendak direkam. Hal ini dibenarkan oleh Menti MHA SAD Kelompok Temenggung Ngadap, Gentar.


"Iya, tadi ada yang tidak mau direkam. Padahal dari pagi dia menunggu giliran perekaman," kata Gentar.


Gentar menjelaskan, warga MHA SAD tersebut bernama Nyado, tinggal di Kasang Panjang, Desa Tanah Garo. Dia menolak untuk direkam karena tidak mau mencuci tangan dengan sanitizer. Alasannya, sanitizer tersebut adalah cairan vaksin.


"Cairan sanitizer itukan terasa beda ditangan, baunya pun berbeda. Mungkin pikirnya itu cairan vaksin, makanya dia langsung menolak saat petugas menyuruhnya mencuci tangan dengan cairan sanitizer, dan langsung pergi," kata Gentar.


Diakui Gentar, pengetahuan dan wawasan MHA SAD masih sangat minim terutama soal Covid-19 dan vaksinasi. Yang diketahui MHA SAD kata dia, Covid-19 itu merupakan penyakit sangat berbahaya dan gampang menular, "Jika sudah menyangkut soal Covid-19 ataupun vaksin, otomatis langsung kabur," ujarnya.


Hal ini dibenarkan oleh pemimpin MHA SAD Desa Tanah Garo, Temenggung Ngadap. Rata-rata kata dia, MHA SAD Kelompok yang dipimpinnya sangat takut tertular Covid-19,"Orang luar saja takut sama Covid-19, apalagi kami orang dalam," kata Temenggung.


Begitu juga dengan Vaksin Covid-19, Temenggung berkata jika MHA SAD kelompok dia menolak untuk divaksin. "Kami lebih percaya dengan ramuan (obat-obatan) tradisional kami, dari pada vaksin," pungkasnya. (red)

Komentar

Tampilkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terkini