-->

Menu Bawah

Iklan

PT WKS Dianggap Ciderai Komitmen Resolusi Konflik Atas Penahanan dua orang kakak beradik

Portal Tebo
29/10/21, 14:46 WIB Last Updated 2021-10-29T07:48:48Z
masukkan script iklan disini

DIskusi antara Kelompok Tani Sakato Jaya dengan Faisal K Fuad ,Head of Social & Security PT WKS ( Memakai Topi) terkait permintaan Pencabutan laporan polisi.

PORTALTEBO.id
- Suwandi dan Sahrul, dua orang kakak beradik  yang bekerja membersihkan ladang anggota KT. Sakato Jaya diamankan Satpam PT. WKS dan ditahan di Polres Tebo. Kejadian ini berlangsung pada Selasa,l 19 Oktober 2021.

Saat itu, dua orang kakak beradik tersebut sedang bekerja di ladang salah satu anggota Kelompok Tani Sakato Jaya. Tiba-tiba datang orang PT WKS  dan langsung menangkap kedua kakak beradik itu, setelah itu dibawa ke Polres Tebo.

Saat kejadian penangkapan  dan sesudahnya  penangkapan, tidak ada koordinasi dan komunikasi dari pihak perusahaan ke ketua KT Sekato Jaya.

Diketahui, lahan yang dibersihkan oleh dua orang kakak beradik ini adalah lahan yang dikelola dan masuk kedalam lokasi dan wilayah  yang sedang diperjuangkan oleh Kelompok Tani Sakato Jaya.

Proses Resolusi konflik dan kesepakatan sudah mulai dibangun para pihak, bahkan pasca penyemprotan tanaman masyarakat beberapa kali sudah dilakukan pertemuan dan ada berita acara kesepakatan yang ditandatangani perwakilan perusahaan, pendamping, Kelompok Tani dan juga Kapolres Tebo, pada 15 April 2020 bertempat di Polres Tebo.

Pada salah satu point yang tertuang dalam berita acara tersebut menyebutkan “Bila ada masyarakat yang menanam dilahan yang telah digarap PT. WKS, agar PT.WKS melaporkan ke ketua Kelompok Tani dan Kepala Desa, apabila tidak ditanggapi  agar berkoordinasi dengan WALHI, Prana, maupun KPA selaku penghubung.

Pasca diskusi di Polres Tebo, aktivitas perusahaan dan Kelompok Tani di lapangan tetap berjalan dan tidak ada persoalan yang sampai kepada pihak kepolisian. Koordinasi antara petugas lapangan (Tim Patroli, Satpam) dari perusahaan tetap berkoordinasi dengan Ketua Kelompok Tani Sakato Jaya. Akan tetapi terjadi hal seperti yang tidak diinginkan.

“Kejadian ini sangat disayangkan, kita sedang menyusun semua dokumen dan kelengkapan untuk proses Resolusi Konflik, akan tetapi PT. WKS mencederai proses dan sama sekali tidak menghargai kawan–kawan yang selama ini telah mendampingi kami untuk menyusun semua kelengkapan dokumen dan tetap menjaga situasi dan kondisi dilapangan tetap kondusif," kata M. Jais Ketua Kelompok Tani Sakato Jaya.

Pasca diamankan oleh satpam WKS dan diantar ke Polres Tebo, dua orang pekerja yang ditahan ditemui oleh Ketua Kelompok Tani Sakato Jaya dan perwakilan  Kelompok Tani Sakato Jaya, setelah pendamping dari WALHI Jambi berkomunikasi dengan Polres Tebo via pesan Whatsapp, dan benar bahwa dua orang tersebut sedang dalam proses penyidikan, komunikasi dengan Polres Tebo dilakukan setelah tidak ada informasi yang cukup kemana dua orang pekerja ini dibawa, pesan via  Whatsapp pada tanggal 22 /10/2021 berlanjut dengan permintaan surat penangkapan atau laporan yang dibuat oleh PT. WKS ke Polres Tebo, dan hal ini juga tidak didapatkan.

Kedua orang yang diamankan tersebut dimintai keterangan dan dilanjutkan dengan penitipan surat Panggilan kepada anggota Kelompok Tani Sakato Jaya yang memperkerjakan dua orang tersebut.

Proses resolusi konflik juga dikomunikasikan oleh Kelompok Tani Sakato Jaya dengan cara melakukan pertemuan dengan pihak perusahaan bersama pendamping, juga berkirim email ke APP dan juga pemilik APP.

Sebagai tindak lanjut dari proses yang dibangun, juga akan dilanjutkan dengan rencana duduk bersama para pihak.

Tidak hanya pengamanan dan penangkapan dua orang yang bekerja tersebut, sempat juga diambil barang–barang dari pondok petani yang berada dilokasi, setelah berkomunikasi dengan pihak perusahaan, barang–barang yang diambil dikembalikan akan tetapi dua orang yang diamankan tersebut tetap tinggal di Polres Tebo.

Dari komunikasi antara Ketua Kelompok Tani dan WALHI Jambi, maka disepakati akan berdiskusi dengan perwakilan perusahaan yaitu Head of Social & Security PT WKS yaitu Faisal K Fuad, terkait proses pengamanan dan penahan dua orang yang bekerja membersihkan ladang tersebut, pertemuan dilakukan setelah berkomunikasi melalui pesan Whatsapp , telpon, dan akhirnya disepakati bertemu dikantor WALHI Jambi untuk membahas terkait proses pengamanan yang berakhir dengan penahanan tersebut.

Permintaan Ketua Kelompok Tani dan perwakilan petani yang hadir kepada Head of Social & Security PT WKS adalah pencabutan laporan polisi dan melepaskan dua orang yang ditahan tersebut, akan tetapi melaui pesan Whatsapp yang disampaikan kepada anggota kelompok tani pasca diskusi malah sama sekali tidak menyinggung soal pencabutan laporan polisi tersebut.

Melalui pesan Whatsapp yang diteruskan : 


[15.40, 27/10/2021] Bang Mamad Bukit Rinting: Spt diskusi td malam, sbg pembelajaran bersama ke depan, pihak WKS tidak mencabut laporan MasBro. Salah satunya krn keterangan ttg perkara 2 terduga pelaku yg bukan warga, msh diperlukan 

Namun, upaya perdamaian (jika disepakati), bisa salah satunya dng sama-sama menempuh prosedur dr Kepolisian (seperti pengajuan Restorative Justice). Ini msh kita dalami.

Akan jauh lebih baik ke depan, bagi semua pihak


[15.40, 27/10/2021] Bang Mamad Bukit Rinting: Bagi kami, hikmah beberapa hal dr kejadian kmrn sedang kami dalami, a.l: 

Prinsip keadilan restoratif (restorative justice) tidak bisa dimaknai sebagai metode penghentian perkara secara damai, belaka.

Hal ini lebih luas pada pemenuhan rasa keadilan semua pihak yang terlibat dalam perkara pidana melalui upaya yang melibatkan korban, pelaku, dan masyarakat setempat, dengan penyelidik/penyidik sebagai mediator.

Kalau penyelesaian perkara pidana, yg salah satunya dalam bentuk perjanjian perdamaian dan pencabutan hak menuntut dari korban, tentu perlu dimintakan penetapan hakim melalui jaksa penuntut umum untuk menggugurkan kewenangan menuntut dari korban, dan penuntut umum dan semacamnya. Tapi itu pertimbangan saja.

PT. Wirakarya Sakti tidak serius dalam proses yang sedang dilakukan, , resolusi konflik yang dibangun dicederai dengan kelakuan karyawan yang tidak mendapatkan informasi yang jelas dari atasan, atau bisa jadi ini adalah unsur kesengajaan .

(redaksi)

Komentar

Tampilkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terkini