-->
  • Jelajahi

    Copyright © Portal Tebo I Anda Baca, Anda Ketahui
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Bawah

    Iklan

    Dampak Ekspor CPO di Stop

    Redaksi
    30/04/22, 21:28 WIB Last Updated 2022-04-30T14:28:46Z
    masukkan script iklan disini

     


    Crude palm oil  merupakan minyak kelapa sawit mentah. Produk ini diperoleh dari hasil ekstrkasi atau proses pengempaan daging buah (mesocarp) kelapa sawit umumnya dari spesies Elaeis guineensis dan belum mengalami pemurnian. Indonesia merupakan produse kelapa sawit terbesar di dunia diikuti Malaysia. Kebutuhan dunia terhadap CPO 85 persen di penuhi dari Indonesia dan Malaysia.


    Ada beberapa penggunaan turunan dari pengolahan CPO sendiri yang diantaranya :

    1. Biodisel, saat ini pemerintah Indonesia melalui Pertamina melakukan pencampuran solar dengan minyak sawit menjadi Biosolar. Dimana saat ini biosolar 30 persennya merupakan minyak sawit biasa di sebut B30.

    2. Bahan minyak goreng, Salah satu pemanfaatan dari minyak nabati hasil pengolahan CPO yang paling umum adalah sebagai bahan baku minyak goreng. Minyak goreng sendiri merupakan salah satu kebutuhan harian mendasar rumah tangga, terutama di Indonesia.

    Terlepas dari kontroversi yang menyebut bahwa minyak kelapa sawit berbahaya bagi kesehatan, nyatanya masyarakat masih menggunakan produk ini untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.


    Walau sebagian besar fungsi minyak goreng adalah untuk keperluan dapur baik skala rumahan hingga restoran dan industri makanan berskala besar nyatanya dapat pula dimanfaatkan untuk beberapa keperluan lain.


    Minyak goreng juga bisa digunakan sebagai pelumas alat rumah tangga, menghilangkan noda cat dari tangan, pelindung furnitur dan alat masak, hingga pembersih mobil.

    1. Bahan Baku produk makanan, biasanya minyak sawit digunakan untuk membuat margarin yang mana margarin sendiri hampir mirip dengan minyak goreng kegunaanya.

    2. Bahan baku kosmetik, hampir 70 persen kosmetik yang ada saat ini mengandung minyak sawit karena minyak sawit kegunaannya untuk melembabkan.

    Indonesia saat ini menjadi eksportir minyak sawit terbesar di dunia, negara Tiongkok dan India merupakan pangsa pasar paling besar dalam ekspor minyak sawit mentah (CPO). Ekspor CPO ke kedua negara tersebut mencapai 29% dari total nilai ekspor sawit Indonesia. Berdasarkan data badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor CPO ke Negeri Tirai Bambu tersebut mencapai US$ 4,55 miliar sepanjang Januari-November 2021. Nilai tersebut mencapai 17,47% dari total nilai ekspor minyak sawit Indonesia. Negara tujuan ekspor CPO terbesar berikutnya adalah India, yakni sebesar US$ 3,11 miliar (11,96%). Diikuti Pakistan sebesar US$ 2,46 miliar, Amerika Serikat US$ 1,61 miliar (9,44%), Banglades US$ 1,26 miliar (4,83%), serta Malaysia senilai US$ 1,21 miliar (4,65%).  Nilai ekspor minyak sawit ke Amerika Serikat sepanjang Januari-September 2021 mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni sebesar 136,4% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara nilai ekspor ke India hanya mencatat kenaikan 17,98%, terendah dibandingkan dengan 5 negara tujuan ekspor terbesar CPO lainnya.


    Dengan begitu besar nya nilai ekspor minyak sawit saat ini tentu akan merugikan Indonesia saat Presiden Joko Widodo melarang ekspor minyak sawit ke Luar negeri. 

    Dampak apa saja yang bisa timbul akibat larangan ekspor CPO saat ini :

    1. Kehilangan momentum, 

    saat ini Negara Rusia dan Ukraina sedang mengalami peperangan ini menyebabkan bahan pembuat minyak goreng seperti jagung dan kedelai yang ggal panen, sehingga permintaan CPO dari negara eropa meningkat dan mereka akan memilih malaysia sebagai produsen CPO terbesar kedua didunia. Sehigga Indonesia kehilangan kesempatan menguasai pasar yang ada di Eropa.

    1. Hubungan Internasional menjadi buruk

    Larangan CPO saat ini berpotensi menjadi protes keras negara negara yang sangat tergantung dengan CPO, tentu ini kan membuat hubungan antar negara menjadi kurang baik. Sehingga gelombang protes juga akan disampaikan oleh beberapa negara jika ekpor CPO dilarang dengan waktu yang lama

    1. Hilang nya Devisa Negara

    Jika larangan CPO ini dilakukan dalam 1 bulan saja, Negara akan kehilangan devisa yang cukup besar sekitar 43 Triliun  menurut Direktur Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira

    1. Harga di Petani akan turun

    Dampak terberat dilarangnya CPO tentu nya adalah petani sawit karena dengan banyaknya cadangan CPO di dalam negeri maka harga dipetani akan turun. Sedangkan harga CPO dunia mengalami kenaikan yang tinggi sedangkan harga di petani turun. Jutaan petani sawit akan dirugikan jika larangan CPO terus dilakukan.

    1. Penyelundupan CPO

    Dengan di larangnya ekpsor CPO tentunya malaysia akan menjadi transit para mafia CPO untuk meraih keuntungan karena harga CPO dunia naik sedangkan harga sawit Indonesia turun. Segala cara akan dilakukan para mafia CPO untuk mencari keuntungan dengan naiknya harga CPO dunia.


    Tentu nya kebijakan larangan CPO untuk kebutuhan dalam negeri sangat baik. Tentu harus menjamin juga  agar harga di petani sawit tidak terus turun sehingga petani sawit tidak dirugikan. Semoga upaya pemerintah dalam menangani persoalan minyak goreng benar-benar dirasakan oleh semua masyarakat Indonesia. Yang terakhir pemerintah harus terus membenahi persolan minyak sawit dari hulu hingga hilir.


    Lina Marliana, Staf BPS Kab. Tebo


    Komentar

    Tampilkan

    1 komentar:

    1. Keputusan kepala negara atas emosi sesaat... Akhirnya..... Menangnya cuma 1, kalahnya 1000.. semoga secepatnya di evaluasi kembali

      BalasHapus

    Terkini