-->
  • Jelajahi

    Copyright © Portal Tebo I Anda Baca, Anda Ketahui
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Bawah

    Iklan

    Produksi Padi Terus Turun

    Redaksi
    20/05/22, 20:21 WIB Last Updated 2022-05-20T13:21:02Z
    masukkan script iklan disini

     


    Padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman yang diduga berasal dari India atau Indocina dan masuk ke Indonesia dibawa oleh nenek moyang yang migrasi dari Asia sekitar 1500 SM. Beras yang berasal dari padi merupakan bahan makanan pokok bagi masyarakat Indonesia, kebutuhan beras setiap tahun mengalamai kenaikan seiring bertambahnya jumlah penduduk Indonesia. 

    Dikabupaten Tebo sendiri rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk padi-padian sebesar Rp 75.120 (berdasar  data BPS Kab. Tebo). 

    Gambaran umum produksi padi dan faktor-faktor yang diduga mempengaruhinya adalah luas panen padi dan realisasi pupuk bersubsidi membentuk pola linier sehingga variabel-variabel tersebut merupakan variabel parametrik. Sedangkan luas lahan puso padi, curah hujan, dan ketinggian rata-rata dari permukaan laut cenderung acak, sehingga variabel-variabel tersebut merupakan variabel nonparametrik.

    BPS Kab Tebo mencatat produksi Padi pada tahun 2021 mencapai 44797.1 Ton di banding tahun sebelumnya produksi padi mencapai 54001,4 Ton. Penurunan produksi padi di kabupaten Tebo tentu menjadi Pekerjaan Rumah bagi Dinas Terkait agar terus meningkatkan kembali produksi Padi agar kebutuhan akan beras di kabupaten Tebo tercukupi dengan baik.

    Beberapa faktor yang mungkin menjadi faktor turunnya produksi padi di kabupaten Tebo antara lain

    1. Luas Lahan Garapan, dimana lahan garapan baik sawah dan ladang untuk menanam padi juga mengalami penurunan. Pada Tahun 2021 luas lahan garapan sawah dan padi seluas 10966,9 Ha turun di banding tahun 2020 dimana luas lahan sawah dan ladang 12977,6 Ha. Ini data di ambil dari Kabupeten Dalam Angka 2022 yang diterbitkan oleh BPS Kabupaten Tebo.

    2. Tenaga Kerja, saat ini banyak anak muda yang tidak tertarik menjadi petani dikarenakan menjadi petani di anggap kotor, Panas, dan hasil tidak sesuai dengan tenaga yang di keluarkan.

    3. Pupuk dan obat-obatan , semakin mahalnya Pupuk menjadi problem bagi para petani Padi dimana hasil produksi terkadang tidak sesuai dengan biaya produksi, kendala pupuk subsidi yang terkadang langka menjadi persoalan yang serius.

    4. Beralih garapan, faktor ini biasa nya terjadi bagi petani padi ladang dikarenakan ladang saat ini banyak beralih ke kebun kelapa sawit dimana harga kelapa sawit terus mengalami kenaikan, walapun saat ini harga sawit terjun bebas karena larangan ekspor akan tetapi diprediksi harga sawit akan kembali naik se iring permintaan buka ekspor CPO agar harga dipetani kembali naik.

    Pemerintah daerah di harapkan terus membuat terobosan agar Produksi Padi di Kabupaten Tebo meningkat. Terobosan bibit padi unggul juga akan membuat produksi Padi meningkat. Kemudahan dalam mendapatkan pupuk subsidi juga sangat membantu para petani Padi dalam meningkatkan produksi dan menekan biaya. Tentu yang menjadi problem serius adalah kurang minatnya anak muda untuk menjadi petani. Ini disebabkan pendapatan menjadi petani masih terlalu kecil, tentu ini butuh dukungan pemerintah agar produk Pertanian menjadi lebih baik dan layak bagi petani. Semoga upaya yang sedang dilakukan oleh pemerintah mampu menjawab dan menjadi solusi pertanian terutama di Kabupaten Tebo.


    Lina Marliana, Staf BPS Kab. Tebo


    Komentar

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Terkini